Sleman Waspada Stunting, Asap Rokok dan Kekurangan Gizi Jadi Ancaman Anak Sejak Dini
dr. Cahya Purnama menjelaskan faktor penyebab stunting dan strategi penanganan di Kabupaten Sleman, loby gedung lama Setda Sleman, Selasa (28/10/2025).--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id - Stunting tidak hanya soal tinggi badan yang kurang, tetapi juga berdampak pada perkembangan fisik dan intelektual anak.
dr. Cahya Purnama, Kepala Dinas Kesehatan Sleman, menekankan bahwa begitu anak mengalami stunting, kondisinya bersifat irreversibel dan tidak dapat kembali normal.
“Dampak stunting bukan hanya pada tubuh, tetapi juga pada kemampuan berpikir anak. Generasi muda yang terkena stunting tidak dapat berkembang optimal dan justru menjadi beban bagi daerah,” katanya saat jumpa pers di loby gedung lama Setda Slema, Selasa (28/10/2025).
Selain asupan yang tidak adekuat, faktor kedua yang masih menjadi masalah serius adalah anggota keluarga yang merokok.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sleman, faktor merokok di rumah berkontribusi sebesar 66,5% terhadap kasus stunting, sedangkan asupan yang tidak adekuat berpengaruh hingga 80%.
“Meskipun program PHBS berhasil menurunkan angka perokok di rumah, kita tetap harus waspada. Jika orang tua merokok di dalam rumah, partikel halus dari asap rokok menempel di permukaan benda di sekitar. Bayi yang diletakkan di sana bisa menghirup partikel tersebut, berisiko mengalami gangguan paru-paru dan sering sakit,” jelasnya.
BACA JUGA : Wabup Danang Ajak Pemuda Sleman Berkarya dan Beraksi Nyata di Hari Sumpah Pemuda ke-97
BACA JUGA : Bikin Kenyang! Deretan Tempat Makan Malam Di Sleman Bernuansa Alam, Rasanya Menggugah Lidah Dan Bikin Nambah
Ia menambahkan, penanganan stunting tidak hanya soal pemberian makanan bergizi, tetapi juga mencakup lingkungan rumah yang sehat dan bebas asap rokok.
“Asupan gizi seimbang dan rumah yang bebas asap rokok menjadi fondasi utama untuk mencegah stunting sejak dini,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa bayi yang sering sakit berisiko gagal menyerap gizi secara optimal, sehingga meningkatkan kemungkinan mengalami stunting.
“Bayi yang sering sakit tidak hanya melemahkan tubuhnya, tetapi juga menghambat penyerapan gizi penting yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan otak,” ucapnya.
Selain bayi yang sering sakit, faktor lain yang memengaruhi stunting meliputi ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK), ketiadaan air bersih, dan tidak memiliki jamban sehat.
“Faktor lingkungan dan pola asuh yang tepat sama pentingnya dengan asupan gizi. Tanpa itu, upaya pencegahan stunting tidak akan maksimal,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: