Wali Kota Hasto Sebut Penataan Sumbu Filosofi Tak Boleh Sekadar Janji, Tapi Harus Terukur dan Tuntas

Wali Kota Hasto Sebut Penataan Sumbu Filosofi Tak Boleh Sekadar Janji, Tapi Harus Terukur dan Tuntas

Suasana parkiran eks Abu Bakar Ali (ABA), Yogyakarta, Rabu (15/10/2025). Area yang dulu ramai kini tampak lengang usai relokasi juru parkir dan PKL ke eks Menara Kopi Kotabaru.--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id

YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Di tengah riuh tuntutan para juru parkir dan pedagang kecil yang terdampak relokasi, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan penataan kawasan Sumbu Filosofi dengan langkah konkret dan terukur. 

Ia mengakui proses di lapangan memang belum berjalan sesuai harapan, namun menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam.

“Sebagian sudah pernah kita bahas, dan saya juga sempat meninjau langsung ke lapangan,” katanya saat ditemui usai open house, Rabu (15/10/2025).

Ia menuturkan, kunjungan lapangannya dilakukan saat awal masa relokasi pedagang dan juru parkir dari kawasan ABA ke eks Menara Kopi, Kotabaru. 

Saat itu, kondisi di lokasi baru memang masih sepi, belum menunjukkan geliat ekonomi seperti yang diharapkan. 

“Waktu itu saya datang ke lokasi saat musim penyerahan, tapi memang kondisinya belum berkembang sama sekali,” ucapnya.

BACA JUGA : Yogyakarta Percepat Penerapan Parkir Digital QRIS, Target 700 Titik Tahun 2026

BACA JUGA : Ada Parkir Digital di 110 Titik Kota Yogyakarta, 50 Persen Jukir Ditargetkan Berbasis Digital

Ia mengatakan, pemerintah telah menginstruksikan dinas terkait untuk segera menindaklanjuti penataan kawasan tersebut. Bahkan, tenggat waktu sudah ditetapkan agar proses tidak berlarut-larut. 

“Saya sudah perintahkan Kepala Dinas, bahkan sudah saya beri deadline sebelum Hari Jadi Kota,” tuturnya.

Namun, ia mengakui bahwa sejumlah persoalan teknis, terutama mengenai rekayasa lalu lintas, masih menjadi bahan pembahasan bersama pihak kepolisian dan instansi terkait lainnya. 

Koordinasi ini penting, mengingat kawasan Sumbu Filosofi merupakan koridor utama yang sensitif terhadap perubahan arus kendaraan. 

“Namun karena masih ada diskusi dengan pihak kepolisian dan dinas terkait soal rekayasa lalu lintas, realisasinya sempat tertunda,” jelasnya.

Pernyataan tersebut datang di tengah kegelisahan para pelaku usaha kecil di kawasan eks ABA yang merasa kehidupannya semakin sulit pasca-relokasi. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: