Pedagang Muda Kejar Peruntungan di Tengah Riuh Saparan Bekakak Sleman

Pedagang Muda Kejar Peruntungan di Tengah Riuh Saparan Bekakak Sleman

Pedagang muda, Andi menggoreng sosis di tengah keramaian Saparan Bekakak Sleman di Lapangan Kalurahan Ambarketawang, Gamping, Sleman --Foto: Kristiani Tandi Rani/DiswayJogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id — Di tengah riuh musik dangdut dan alunan gamelan yang berpadu di udara siang itu, aroma jajanan tradisional dan makanan kekinian menyeruak memenuhi Lapangan Kalurahan Ambarketawang, Gamping, Sleman. 

Tenda dengan beraneka ragam jualan dari masing-masing tenda para pedagang tertata dengan rapi, menarik perhatian pengunjung yang datang berombongan bersama keluarga atau teman. 

Di salah satu sudut lapangan, Andi (23) tampak sibuk melayani pembeli yang mengantre.

Tangannya cekatan membalik sosis yang tengah digoreng di wajan kecil, sementara uap panas dari dimsum yang tertata rapi di meja depan sesekali mengepul, bercampur dengan aroma gurih kentang goreng. 

BACA JUGA : Upacara Adat Saparan Bekakak Jadi Magnet Wisata Budaya, Wabup Sleman Dorong Pelestarian Tradisi

BACA JUGA : Pemerintah Dorong Mahasiswa Jadi Pengusaha, Gaspol Goes to Campus Dimulai dari UMY

Di sampingnya, beberapa stoples berisi camilan ringan siap memanjakan lidah pengunjung. Pandangannya sesekali terarah ke pintu masuk, seolah mengukur arus pengunjung yang keluar-masuk arena. 

Tradisi Saparan Bekakak Sleman ini menjadi salah satu magnet yang membuatnya kembali mencoba peruntungan meski risiko kerugian selalu mengintai. Andi bukanlah wajah baru di dunia usaha kaki lima. 

Sejak akhir 2023, ia kerap berpindah-pindah stan, mengikuti berbagai gelaran rakyat di Yogyakarta dan sekitarnya, terutama pasar malam. Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus.

“Kebanyakan boncos sih, Kak, malah seringnya nggak balik modal,” katanya sambil tersenyum pahit, saat ditemui di sela-sela kesibukannya (8/8/2025).  

Ia mengaku omzetnya sangat bergantung pada ramai atau tidaknya pengunjung serta daya tarik hiburan yang ditawarkan penyelenggara acara.

“Biasanya dalam sehari bisa sampai sejuta, ini cuma tiga ratus,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Hamzah Sulaeman, Seniman dan Pengusaha Raminten Yogyakarta Meninggal Dunia

BACA JUGA : Pengusaha Katering di Bantul Diminta Hati-hati dan Tidak Tergiur Tawaran Penyedia Program Makan Bergizi Gratis

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: