YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Aksi ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sipil di Simpang Empat Jalan Jenderal Sudirman atau kawasan Gramedia, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026) malam, sempat memanas setelah terjadi adu teriak antara peserta aksi dan sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi.
Ketegangan terjadi sekitar pukul 19.02 WIB di depan pos polisi kawasan Simpang Gramedia. Situasi sempat ricuh ketika massa aksi dan warga saling berteriak, sebelum aparat kepolisian bergerak melakukan pengamanan.
Meski sempat memanas, situasi kembali terkendali setelah polisi memfasilitasi komunikasi dengan peserta aksi. Hingga pukul 20.24 WIB, massa masih bertahan di lokasi dengan penjagaan ketat dari aparat kepolisian.
Aksi yang dimulai sejak sore hari awalnya berlangsung dengan orasi dan pembentukan lingkaran besar di tengah simpang. Massa tiba di lokasi sekitar pukul 16.20 WIB, menyebabkan arus kendaraan menuju Malioboro dan Jalan Solo dialihkan. Namun memasuki malam hari, situasi berubah.
BACA JUGA:Ratusan Massa Nyalakan Lilin di Bundaran UGM, Aksi 'Agustus Gelap' Kenang Korban Ketidakadilan
BACA JUGA:Ratusan Massa Gelar Aksi Agustus Gelap di UGM, Soroti Perlindungan Pekerja Migran hingga Demokrasi
Sekitar pukul 19.02 WIB, ketegangan muncul di depan pos polisi ketika massa dan warga yang berada di sekitar lokasi saling melontarkan teriakan.
Tiga menit kemudian, sekitar pukul 19.05 WIB, sebagian massa terlihat berlarian ke arah utara dari titik aksi. Selanjutnya, pada pukul 19.10 WIB, sejumlah peserta aksi tampak berdiskusi dengan aparat kepolisian.
Setelah situasi mereda, polisi kembali ke kawasan Simpang Gramedia sekitar pukul 19.23 WIB. Dua menit kemudian, massa kembali membentuk barisan melingkar di simpang empat dan melanjutkan orasi.
Perwakilan Aliansi Masyarakat Sipil, Mesa dari Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan Simpang Gramedia dipilih sebagai lokasi aksi karena dinilai merupakan titik strategis di Kota Yogyakarta.
BACA JUGA:Aksi Mahasiswa Yogyakarta 27 Agustus, Forum BEM DIY Bawa 10 Tuntutan ke DPRD DIY
"Perempatan Gramedia ini merupakan titik vital dan harapannya apa yang diaspirasikan, apa yang jadi keresahan ini juga bisa mewakili dan juga menyuarakan orang-orang yang tidak bisa melakukan aksi karena dituntut oleh pekerjaannya, kondisi ekonomi, kebijakan, regulasi, dan banyak pengabaian negara terhadap masyarakat," kata Mesa.
Menurut Mesa, aksi tersebut awalnya digagas oleh Aliansi Mahasiswa UGM sebelum kemudian berkembang menjadi Aliansi Masyarakat Sipil yang melibatkan mahasiswa lintas kampus, organisasi, dan masyarakat umum.
Dalam orasi, massa menyampaikan berbagai kritik terhadap kebijakan pemerintah, mulai dari tata kelola penanganan bencana, pengelolaan sumber daya alam, hingga alokasi anggaran negara.