“Ilmu yang hebat namun merusak harmoni ini, betapapun canggihnya, telah kehilangan arahnya,” jelasnya.
Sri Sultan menjelaskan implementasi PKJ harus diwujudkan secara nyata melalui Tridharma Perguruan Tinggi. Dalam bidang pendidikan, nilai-nilai Kejogjaan dapat diterapkan sesuai karakter masing-masing disiplin ilmu.
BACA JUGA : Pendidikan Khas Kejogjaan Resmi Diterapkan, Sri Sultan: Jangan Sampai Generasi Kehilangan Akar
BACA JUGA : Menkeu Purbaya: Desain Anggaran Pendidikan Sudah Lebih dari 20 Persen, Ini Penyebab Realisasi Turun
Pada bidang penelitian, Yogyakarta diharapkan menjadi laboratorium hidup dengan menjadikan kampung, pasar, sanggar budaya, kawasan cagar budaya, hingga wilayah rawan bencana sebagai ruang riset yang dekat dengan persoalan masyarakat.
Sementara pada pengabdian masyarakat, perguruan tinggi diharapkan membangun hubungan yang berkelanjutan dengan warga melalui pendampingan yang nyata.
“Sebab nilai akan kehilangan kekuatannya jika hanya diajarkan, namun tidak dicontohkan oleh institusi yang mengajarkannya,” papar Sri Sultan.
Ia juga memperkenalkan konsep ekosistem PKJ yang mempertemukan tiga ruang utama, yakni Kraton sebagai horizon nilai, kampus sebagai pusat daya kritis berbasis ilmu pengetahuan, dan kampung sebagai ruang pembuktian nilai dalam kehidupan sehari-hari.
“Ilmu modern akan semakin kuat apabila memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan pengetahuan yang hidup di kampung, dalam cara masyarakat menjaga air, merawat tanah, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan,” imbuhnya.
BACA JUGA : Pendidikan Indonesia Disorot, Haedar Nashir: Jangan Hanya Kejar Nilai Akademik
BACA JUGA : Aksi Mahasiswa di Yogyakarta, Aliansi Gelora Soroti Upah di Bawah Standar hingga Pendidikan Mahal
Sri Sultan mengajak seluruh perguruan tinggi di DIY menjadikan PKJ sebagai gerakan ilmu yang berjiwa budaya, dengan menempatkan kebudayaan sebagai sumber nilai, ilmu sebagai alat pemuliaan, dan kesejahteraan manusia sebagai tujuan akhir pendidikan.
“Semoga dari Yogyakarta lahir model pendidikan tinggi yang mampu menyatukan akar dan kemajuan, nalar dan rasa, kebijakan dan laku,” tutupnya.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Brian Yuliarto, menyebut Yogyakarta memiliki posisi istimewa dalam sejarah pendidikan Indonesia karena telah melahirkan banyak pemikir, ilmuwan, pemimpin, dan generasi muda yang berkontribusi bagi bangsa.
Menurut Brian, nilai-nilai seperti Hamemayu Hayuning Bawana, Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh, dan semangat Golong Gilig sangat relevan untuk membentuk karakter mahasiswa.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus memiliki karakter, integritas, kepekaan sosial, dan pemahaman terhadap akar budayanya,” ujar Brian lewat video daring.