Pendidikan Khas Kejogjaan Resmi Masuk Perguruan Tinggi, Ini Pesan Sri Sultan HB X

Pendidikan Khas Kejogjaan Resmi Masuk Perguruan Tinggi, Ini Pesan Sri Sultan HB X

Gubenur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebutkan Buku Pendidikan Khas Kejogjaan untuk Pendidikan Tinggi di UNY, bukan menghambat kemajuan, melainkan memastikan ilmu pengetahuan berpihak pada harmoni, keadilan, dan kesejahteraan manusia.--dok. Pemda DIY

SLEMAN, diswayjogja.id - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan bahwa Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) bukanlah konsep yang bertentangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya, PKJ hadir sebagai cara agar kemajuan tetap berpihak pada keselamatan bumi, keadilan, dan kesejahteraan manusia.

Menurut Sri Sultan, kehadiran PKJ di jenjang perguruan tinggi bukan berarti Yogyakarta menutup diri pada perkembangan global. Justru, nilai-nilai lokal diharapkan menjadi sumber inovasi yang mampu memperkuat kontribusi Yogyakarta terhadap sistem pendidikan tinggi nasional.

“Pendidikan Khas Kejogjaan adalah ikhtiar untuk mempersingkat jarak itu. Bukan dengan menambah mata kuliah sebagai formalitas, melainkan dengan mengajak ilmu pengetahuan untuk pulang: singgah dahulu pada nilai, sebelum ia bekerja di dunia,” ujar Sri Sultan di Gedung Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta, Kamis (20/8/2026). 

Sri Sultan mengatakan PKJ lahir sebagai upaya memperpendek jarak antara ilmu yang dipelajari di ruang kuliah dengan kehidupan nyata masyarakat.

BACA JUGA : Sri Sultan Minta Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) Berlaku di Seluruh Sekolah DIY Mulai 2026-2027

BACA JUGA : Pendidikan Khas Kejogjaan Resmi Diterapkan, Sri Sultan: Jangan Sampai Generasi Kehilangan Akar

Dia menilai ilmu pengetahuan tidak seharusnya berhenti pada buku teks, ujian, atau ijazah, melainkan harus kembali memberi manfaat bagi lingkungan tempat ilmu itu tumbuh.

Gagasan PKJ sendiri telah dirawat sejak lama oleh Dewan Pendidikan DIY. Kini, melalui kerja sama dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V, konsep tersebut diperluas ke dalam pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat di perguruan tinggi.

“Saya ingin meletakkan gagasan ini, bukan sebagai muatan lokal yang ditambahkan pada kurikulum yang sudah penuh. Melainkan sebagai cara pandang, yang mengubah bagaimana ilmu itu sendiri dipertanyakan,” kata Sri Sultan.

Sri Sultan menegaskan ukuran keunggulan ilmu bukan hanya pada kecanggihannya, melainkan pada kemampuannya menjaga harmoni kehidupan sesuai falsafah Hamemayu Hayuning Bawana.

BACA JUGA : 37 Daerah Rumuskan Solusi Pendidikan di KPI 2026 dan Strategi Atasi Anak Tidak Sekolah

BACA JUGA :  Ratusan Tokoh Pendidikan Berkumpul di Sleman, Bahas Empat Isu Strategis Pendidikan Nasional

Falsafah tersebut mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan.

“Yogyakarta, melalui kekhasannya, menawarkan satu jawaban untuk pertanyaan kedua itu, yakni Hamemayu Hayuning Bawana. Sebuah falsafah yang mengajarkan bahwa keunggulan ilmu harus diukur dari kemampuannya merawat harmoni,” tegas Sri Sultan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait