Rahasia Kepemimpinan Sri Sultan HB IX yang Relevan untuk Pramuka Masa Kini
Sri Sultan HB X mengungkap nilai kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang dinilai relevan bagi Gerakan Pramuka masa kini. Kepekaan membaca situasi, kehati-hatian, dan pengabdian menjadi warisan penting HB IX.--dok. Kawedanan Tandha Yekti
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengungkap nilai kepemimpinan yang diwariskan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan dinilai masih relevan untuk Gerakan Pramuka di masa kini.
Menurut Sri Sultan, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Bapak Pramuka Indonesia pernah menyatakan pentingnya semangat pengabdian tanpa pamrih dalam kepanduan Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidatonya di hadapan Kongres Kepanduan Dunia di Tokyo, Jepang, pada 1971.
Sri Sultan menilai pesan tersebut bukan sekadar pernyataan diplomatik, tetapi mencerminkan karakter kepemimpinan HB IX yang mampu membaca situasi secara utuh sebelum mengambil tindakan.
"Dengan judul 'The Trend in Scouting', pernyataan itu bukan sekadar retorika diplomatik. Namun manifestasi dari watak seorang pemimpin yang oleh masyarakat Jawa disebut memiliki sifat Janma Limpad Seprapat Tamat," ungkap Sri Sultan di Auditorium Sukarman, Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2026).
BACA JUGA : GKR Mangkubumi: Musda Pramuka DIY Jadi Ajang Refleksi dan Pengabdian
BACA JUGA : Wali Kota Hasto Berikan Penghargaan Lencana kepada Anggota Gerakan Pramuka, Ingatkan Insan Pancasila
Sri Sultan menjelaskan, Janma Limpad Seprapat Tamat menggambarkan sosok yang memiliki kearifan dan ketajaman dalam memahami persoalan.
Seorang pemimpin dengan karakter tersebut tidak harus mengetahui seluruh persoalan secara detail untuk memahami arah dan tujuan suatu pembicaraan.
"Bukan karena ia tahu segalanya, melainkan karena ketajaman batinnya mampu menangkap keseluruhan dari yang sebagian. Sifat itulah yang tampak dalam rekam jejak beliau (HB IX). Semuanya bertumpu pada kemampuan membaca situasi secara utuh sebelum bertindak," katanya.
Menurut Sri Sultan, kemampuan membaca situasi tersebut menjadi salah satu pelajaran penting bagi anggota Gerakan Pramuka saat ini. Kepekaan terhadap keadaan memungkinkan seseorang mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Namun, kecepatan tersebut tetap harus dibarengi kehati-hatian dan analisis yang jernih.
BACA JUGA : Sri Sultan Tegaskan DIY Aman dan Kondusif, Isu Pagar Mal Jangan Dikaitkan dengan Ancaman Keamanan
BACA JUGA : Gaji Kepala Daerah Bakal Naik? Sri Sultan HB X: Terserah Pemerintah Pusat
"Justru sebaliknya, kepekaan sejati selalu disertai kehati-hatian, disertai analisis yang jernih, disertai kesediaan untuk berhenti sejenak sebelum melangkah. Inilah pelajaran kepemimpinan yang saya kira, terlalu sering dilupakan zaman kita, bahwa kecepatan tanpa kejernihan adalah kecerobohan yang dipercepat," paparnya.
Sri Sultan yang juga Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka DIY mengatakan buku Tahta, Darma, dan Karsa tidak sekadar ditujukan untuk mengenang sosok HB IX.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: