SLEMAN, diswayjogja.id – Tingginya permintaan cacing sutra di pasaran belum mampu diimbangi oleh produksi para pembudidaya. Kondisi ini dirasakan oleh Tri Wahyu Widodo, pembudidaya cacing sutra di Dusun Morobangun, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, yang mengaku kewalahan memenuhi kebutuhan pasar.
Cacing sutra merupakan pakan alami yang banyak digunakan untuk benih ikan karena memiliki kandungan protein tinggi dan mudah dicerna. Selain untuk budidaya ikan hias dan ikan konsumsi, cacing sutra juga banyak dimanfaatkan sebagai umpan memancing.
Tri Wahyu Widodo mengatakan, tingginya permintaan cacing sutra berasal dari para pembenih atau pemijah ikan hias maupun ikan lele. Rata-rata satu pemijah membutuhkan sekitar tiga liter cacing sutra setiap hari.
"Permintaan cacing sutra saat ini sangat tinggi, tetapi produksi kami masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar. Dari lahan seluas 3.600 meter persegi, kami baru bisa menghasilkan sekitar enam liter per hari, sementara satu pemijah ikan saja bisa membutuhkan hingga tiga liter setiap hari," ujar Tri Wahyu Widodo.
BACA JUGA : Budidaya Lidah Buaya Organik, Usaha Menarik yang Jarang Dilirik
BACA JUGA : Ratusan Petani dan Pembudidaya Ikan di Sleman Masih Kesulitan, Tani Merdeka Turun Tangan
Dari lahan budidaya seluas 3.600 meter persegi, dirinya hanya mampu memproduksi sekitar enam liter cacing sutra per hari. Panen dilakukan dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari.
Selain memenuhi kebutuhan pemijah ikan hias dan lele, hasil budidaya cacing sutra miliknya juga diserap oleh kalangan pemancing. Produk tersebut dijual dengan harga Rp10 ribu per cup berukuran 250 mililiter. Sementara harga jual dalam jumlah besar saat ini berada di kisaran Rp30 ribu per liter.
"Harga cacing sutra biasanya akan naik saat musim hujan karena produksi berkurang, sementara kebutuhan pasar tetap tinggi," katanya.
Menurut Tri, perawatan cacing sutra tergolong mudah. Pembudidaya hanya perlu memastikan tanggul kolam tetap rapat untuk menghindari gangguan predator seperti ikan liar, kepiting air tawar, serta ancaman banjir.
BACA JUGA : Warga Cokrodiningratan Ubah Sampah Rumah Tangga Jadi Tabungan Lewat Budidaya Maggot
BACA JUGA : Atasi Masalah Sampah, Mahasiswa UGM Ciptakan Wormy Box yang Bikin Cacing Jadi Pahlawan Lingkungan
"Perawatan cacing sutra sebenarnya cukup mudah dan biaya pakannya relatif murah. Yang penting menjaga kondisi kolam agar aman dari predator dan banjir. Dengan tingkat kematian yang rendah, budidaya ini cukup menjanjikan untuk menambah pendapatan," kata Tri.
Kebutuhan pakan pun relatif murah karena dapat memanfaatkan sisa-sisa bahan organik atau limbah makanan tertentu yang telah difermentasi. Dengan tingkat kematian yang sangat rendah, usaha budidaya cacing sutra dinilai memiliki prospek menjanjikan dan mampu menghasilkan pendapatan hingga jutaan rupiah setiap bulan.
Melihat tingginya kebutuhan pasar yang belum terpenuhi, budidaya cacing sutra menjadi salah satu peluang usaha perikanan yang masih terbuka lebar untuk dikembangkan, khususnya di wilayah pedesaan yang memiliki sumber air memadai.