Program seperti koperasi Merah Putih, Lumbung Mataram, hingga pembangunan fasilitas budaya disebut sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian kalurahan.
Selain itu, Sri Sultan juga mengingatkan bahwa praktik korupsi sering kali berawal dari hal-hal kecil yang dianggap sepele.
BACA JUGA : Kekerasan Anak di Jogja, Sri Sultan HB X: Tidak Ada Toleransi, Harus Jadi Kasus Terakhir
BACA JUGA : Ungkapan di Balik Kirab Budaya Yogyakarta, Sri Sultan: Berdiri 3 Jam Lebih Ora Kuat
Nilai tersebut, menurutnya, telah lama diajarkan dalam budaya Jawa, termasuk dalam Serat Piwulang yang menekankan pentingnya menjauhi perilaku menyimpang.
“Penyimpangan itu sering berawal dari hal kecil, maka harus diwaspadai sejak awal,” pesannya.
Sri Sultan menegaskan bahwa kelurahan dan kalurahan merupakan wajah pertama negara yang langsung berhadapan dengan masyarakat.
“Kelurahan adalah ruang di mana kebijakan bertemu kehidupan nyata,” imbuhnya.
Karena itu, lanjut Sri Sultan, pengelolaan keuangan harus efisien, tepat sasaran, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Semoga langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga martabat negeri dan menyejahterakan rakyat,” pungkasnya.