YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan setelah terjadi awan panas guguran pada Sabtu (14/3/2026) sore.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Agus Budi Santoso menyampaikan awan panas tersebut terjadi pada pukul 17.59 WIB.
“Terjadi awan panas guguran di Gunung Merapi pada pukul 17.59 WIB dengan estimasi jarak luncur sekitar 1.500 meter dengan amplitudo maksimum 16 mm dan durasi 135 detik, mengarah ke selatan atau hulu Kali Boyong,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Berdasarkan laporan aktivitas gunung api periode pengamatan 14 Maret 2026 pukul 12.00–18.00 WIB, BPPTKG mencatat sejumlah aktivitas kegempaan di Merapi.
BACA JUGA : Aktivitas Gunung Merapi Masih Tinggi, BPPTKG Ingatkan Potensi Awan Panas dan Guguran Lava
BACA JUGA : Gunung Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas Senin Siang, Jarak Luncur 1.300 Meter ke Kali Krasak
Dalam periode tersebut tercatat 1 kali gempa awan panas guguran dengan amplitudo 16 mm dan durasi 135 detik, 31 kali gempa guguran dengan amplitudo 1–29 mm, serta 30 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 1–41 mm.
Selain itu, secara visual kondisi puncak gunung sebagian besar tertutup kabut dengan cuaca berawan hingga mendung. Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
BPPTKG menjelaskan potensi bahaya utama saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada beberapa sektor sungai yang berhulu di Merapi.
Selain itu, material vulkanik berpotensi terlontar hingga radius 3 kilometer dari puncak jika terjadi letusan eksplosif.
BACA JUGA : Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran 1,7 Km ke Arah Kali Boyong Senin Dini Hari
BACA JUGA : Aktivitas Gunung Merapi Masih Tinggi, Alami Ratusan Gempa Guguran dalam Sepekan
BPPTKG mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bencana di sekitar Merapi.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” jelas Agus.
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas guguran (APG) dan bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar kawasan Merapi, serta mengantisipasi gangguan abu vulkanik dari aktivitas erupsi.