Warisan Budaya Takbenda Sleman Terancam, Disbud Soroti Minim Data dan Regenerasi

Rabu 04-02-2026,16:18 WIB
Reporter : Kristiani Tandi Rani
Editor : Syamsul Falaq

SLEMAN, diswayjogja.id - Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman menyoroti berbagai tantangan serius dalam upaya pelestarian warisan budaya takbenda di wilayah Bumi Sembada. 

Minimnya inventarisasi, lemahnya dokumentasi historis, serta menurunnya regenerasi pelaku budaya dinilai menjadi faktor utama yang berpotensi mengancam keberlanjutan tradisi lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Warisan budaya takbenda mencakup beragam bentuk ekspresi budaya yang hidup di tengah masyarakat, mulai dari seni pertunjukan, tradisi lisan, adat istiadat, hingga pengetahuan lokal.

Berbeda dengan warisan budaya benda seperti bangunan atau artefak bersejarah, warisan takbenda kerap luput dari perhatian karena tidak memiliki wujud fisik yang dapat dilihat secara langsung. 

Padahal, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya membentuk identitas dan memori kolektif masyarakat Sleman.

Kepala Bidang Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Esti Listyowati, mengatakan bahwa persoalan mendasar yang saat ini dihadapi adalah belum tertatanya data warisan budaya takbenda secara menyeluruh.

BACA JUGA : Permata Budaya di Jantung Flores, Yuk Eksplorasi Keindahan Sepuluh Desa Adat, Cek Info Lengkapnya Berikut Ini

BACA JUGA : Solo Punya Tempat Destinasi Kafe dengan Sentuhan Budaya dan Klasik

Kondisi ini membuat banyak tradisi berisiko hilang sebelum sempat terdokumentasi dengan baik.

“Warisan budaya takbenda di Sleman belum terinventarisasi dengan baik, sehingga banyak tradisi dan praktik budaya yang berisiko hilang tanpa sempat terdokumentasi secara memadai,” katanya, Rabu (4/2/2026).

Selain pendataan, Disbud Sleman juga menghadapi kendala dalam aspek klasifikasi. Hingga kini, belum terdapat pemisahan yang benar-benar baku antara kategori warisan budaya benda dan takbenda. 

Hal ini berdampak pada perumusan kebijakan yang kurang tepat sasaran, terutama dalam perencanaan program pelestarian dan alokasi anggaran.

“Kami masih menghadapi kendala dalam pemisahan klasifikasi antara warisan budaya benda dan takbenda, padahal keduanya membutuhkan pendekatan pelindungan yang berbeda,” ucapnya.

Tantangan lain yang tak kalah krusial adalah keterbatasan dokumentasi historis. 

BACA JUGA : Ubarampe Labuhan Merapi, Tradisi yang Jaga Alam dan Budaya

Kategori :