Masyarakat justru menjadi pihak yang paling sering berhadapan langsung dengan perubahan alam, baik terkait musim, kondisi tanah, maupun pergerakan lempeng tektonik.
“Masyarakatlah yang setiap hari menghadapi fenomena perubahan dan pergerakan. Maka para warga kita ini harus senantiasa melihat kanan-kiri, depan-belakang ketika terjadi perubahan, apakah itu pergeseran lempeng tektonik atau Sesar Opak,” jelasnya.
Ia mendorong warga untuk turut menganggarkan kesiapsiagaan di tingkat keluarga dan komunitas, misalnya dengan menyiapkan peralatan darurat, jalur evakuasi, hingga pengetahuan dasar tentang tindakan penyelamatan diri.
Dengan demikian, respons awal terhadap bencana tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah.
BACA JUGA : Gempa Guncang Jogja, Pegawai Gedung 6 Lantai Turun Lewat Tangga Darurat
BACA JUGA : Gempa Magnitudo 4,5 Guncang Bantul, Pengunjung Kafe Sempat Deg-degan dan Evakuasi Mandiri
Ia menilai kolaborasi antara kebijakan anggaran yang siap pakai dan kesadaran masyarakat di lapangan akan membentuk sistem pertahanan bencana yang lebih kuat.
Pengalaman menangani berbagai insiden infrastruktur dan bencana alam di Bantul, menurutnya, menjadi pelajaran penting bahwa kesiapan harus dibangun dari dua arah, dari atas melalui kebijakan, dan dari bawah melalui kesadaran warga.
“Ketika pemerintah siap dari sisi anggaran dan masyarakat siap dari sisi kewaspadaan, maka dampak bencana bisa kita tekan bersama,” pungkasnya.
Ia mengatakan masyarakat didorong untuk mampu melakukan mitigasi secara mandiri, sembari tetap bersinergi dengan lembaga kebencanaan seperti BPBD, Palang Merah Indonesia (PMI), dan relawan.
“Mereka bisa secara mandiri melakukan mitigasi, di samping memang harus ada bantuan dari BPBD, dari relawan, PMI, dan lain sebagainya,” tandasnya.
BACA JUGA : Dampak Gempa Pacitan, 16 Kereta Api di Yogyakarta Sempat Dihentikan
BACA JUGA : Merapi Tetap Siaga, Data BPPTKG Ungkap Ratusan Gempa dan Guguran Lava
Di sisi anggaran, ia menjelaskan pemerintah daerah selalu memasang pos BTT sebagai kotak dana yang disiapkan khusus untuk menghadapi kejadian di luar rencana, terutama bencana alam.
Meski tidak mengingat secara detail besarannya, ia memastikan pos tersebut selalu tersedia setiap tahun anggaran.
“Kalau BTT itu saya tidak ingat besarannya, tapi selalu kita pasang. Memang tujuannya, salah satu tujuan yang utama adalah untuk mengatasi bencana, karena bencana itu tidak pernah kita rencanakan,” ucapnya.