SLEMAN, diswayjogja.id – Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman menerapkan pendekatan deep learning dalam proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah kabupaten.
Program ini mulai disosialisasikan kepada pengawas sekolah dan pihak terkait pada awal 2025, dan kini implementasinya telah berjalan selama satu tahun.
Kepala Disdik Sleman, Mustadi, menuturkan bahwa kebijakan pusat menekankan penguatan kurikulum melalui pendekatan pembelajaran, bukan menciptakan kurikulum baru.
“Guru dan pengawas dijadikan tutor atau fasilitator. Ini untuk memastikan pembelajaran berjalan kontekstual dan menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa,” katanya, Senin (26/1/2026).
Selama setahun terakhir, ia mengaku rutin berkeliling ke sekolah-sekolah.
Hasilnya, pola belajar siswa menunjukkan perubahan signifikan.
BACA JUGA : Disdik Pastikan Dana Beasiswa Miskin Sleman Aman dan Tepat Sasaran
BACA JUGA : Insentif Guru MBG Rp100 Ribu Tuai Sorotan, Disdik Sleman Minta Mekanisme Diperjelas
“Anak-anak sudah berbeda dengan sebelumnya; mereka mulai belajar secara kontekstual. Guru memberikan masalah dari kehidupan sehari-hari, lalu anak-anak mendiskusikan dan mulai berpikir kritis,” ucapnya.
Salah satu perubahan yang paling menonjol adalah kemampuan siswa dalam memecahkan masalah secara kreatif.
Diskusi kelas didukung oleh pembelajaran tambahan dan pemanfaatan teknologi informasi.
“Sekarang anak-anak sudah kreatif memecahkan masalah melalui diskusi dan pembelajaran tambahan, termasuk pemanfaatan IT. Mereka tidak hanya menerima materi, tapi benar-benar menginternalisasi dan mengaplikasikannya,” tuturnya.
Ia menegaskan, kemampuan ini merupakan buah dari penerapan deep learning dan penguatan pelajaran coding serta kecerdasan buatan (AI) di sekolah.
“Anak kelas 4 SD sudah bisa menjelaskan coding. Ini bukti bahwa pembelajaran mendalam mulai berbuah nyata,” ujarnya.
BACA JUGA : UKS Diberdayakan, Disdik Sleman Sebut Sekolah Siap Kawal Kualitas Program MBG