40 Tahun Menjaga Batik Giriloyo, Martini Hidupi Keluarga dari Canting Rumahan

Sabtu 03-01-2026,17:55 WIB
Reporter : Kristiani Tandi Rani
Editor : Syamsul Falaq

BACA JUGA : Kota-Kota Pusat Batik dengan Identitas Unik di Indonesia, Simak Referensi Selengkapnya Berikut Ini

Momen paling membahagiakan adalah ketika karya yang ia hasilkan dipajang di galeri kampung batik, lalu menyapa mata para pengunjung.

“Rasanya senang. Apalagi kalau kainnya sudah jadi, dipajang di galeri, lalu ada yang membeli satu atau dua potong,” ujarnya sambil tersenyum.

Setiap guratan canting yang ia buat, baginya, adalah ikhtiar agar dapur tetap mengepul. 

“Secara ekonomi, itu sangat membantu keluarga,” imbuhnya. 

Bahan-bahan membatik ia peroleh dari pemasok yang sudah lama bermitra dengan para pembatik Giriloyo. 

BACA JUGA : Libatkan 300 UMKM Lokal, Pusat Oleh-Oleh Batik Putra Boko Hadir di Prambanan

BACA JUGA : Kota-Kota Pusat Batik dengan Identitas Unik di Indonesia, Simak Referensi Selengkapnya Berikut Ini

Rantai produksi berjalan sederhana, namun penuh ketidakpastian. 

“Biasanya beli di sini, di pemasok yang sudah biasa bekerja sama," tambahnya.

Namun, hasil kerja berhari-hari tidak selalu berbanding lurus dengan pemasukan.  Pasar batik tulis bergerak naik-turun, mengikuti kondisi kunjungan dan permintaan pembeli.

“Tergantung kondisi. Kadang ada yang laku, kadang tidak. Kalau tidak ada yang laku, ya tidak ada pemasukan dari batik hari itu,” sebutnya.

BACA JUGA : Libatkan 300 UMKM Lokal, Pusat Oleh-Oleh Batik Putra Boko Hadir di Prambanan

BACA JUGA : Rekomendasi Destinasi Edukasi Budaya Batik di Seluruh Indonesia, Berikut Informasi Selengkapnya Untukmu

Meski demikian, ia tetap menjadikan membatik sebagai sumber penghasilan utama. 

Ia kerap mengerjakan pesanan bersama anaknya, sementara anak-anak lainnya kini telah tumbuh besar dan bekerja. 

Kategori :