“Dukungan dari orang tua juga besar,” ungkapnya. Anak ini jarang grogi, menunjukkan kedewasaan yang luar biasa untuk usianya.
Selain dunia tarik suara, ia juga memiliki mimpi lain: menjadi dokter seperti ibunya. Namun, musik tetap menjadi fokus dan passion yang membakar semangatnya.
“Saya ingin jadi penyanyi yang bisa bantu-bantu orang,” pungkasnya.
Dengan tekad ini, ia membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk berkarya dan memberi dampak positif.
BACA JUGA : Natal dan HUT 49 GKJ Canden: 400 Jemaat Rayakan Iman, Keluarga, dan Toleransi Bantul
BACA JUGA : Bupati Bantul: UMK 2026 Naik Rp148 Ribu untuk Jaga Daya Beli dan Stabilitas Industri
Menurut pengamat musik anak-anak, bakat Atan merupakan kombinasi alami dari kemampuan vokal dan disiplin latihan sejak dini.
Konsistensi mengikuti lomba sejak kecil membuatnya mahir menghadapi berbagai situasi panggung.
Meski masih SD, ia telah menguasai teknik dasar vokal, ekspresi panggung, dan interaksi dengan penonton.
Bagi warga Bantul, ia menjadi inspirasi. Ia membuktikan bahwa bakat yang diasah sejak dini, dukungan keluarga, dan ketekunan dapat menghasilkan prestasi nyata.
Tidak hanya itu, cita-cita sosialnya menunjukkan karakter yang peduli terhadap lingkungan sekitar.
BACA JUGA : Bupati Bantul: UMK 2026 Naik Rp148 Ribu untuk Jaga Daya Beli dan Stabilitas Industri
BACA JUGA : Selisih Upah Bantul–Sleman Kian Menyempit, Struktur Pengupahan Kini Tembus Rp4,6 Juta
Di usia delapan tahun, ia telah menorehkan prestasi yang jarang ditemui pada anak seusianya.
Dari panggung mall hingga penghargaan nasional, setiap langkahnya menunjukkan kombinasi bakat, kerja keras, dan tujuan mulia.
Kisahnya bukan sekadar cerita lomba nyanyi, tetapi kisah inspiratif tentang anak yang bermimpi besar sambil tetap peduli pada orang lain.