“Bila problem psikososial ini berkelanjutan, akan melumpuhkan saraf kehidupan generasi muda sebagai pewaris masa depan Indonesia,” tegasnya.
BACA JUGA : Haedar Nashir Terima Anugerah Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Prabowo
BACA JUGA : Haedar Nashir Sebut KHGT Satukan Umat Islam dengan Satu Tanggal dan Satu Hari Seluruh Dunia
Haedar menyoroti rendahnya literasi dan etika digital di kalangan masyarakat Indonesia. Berdasarkan laporan Microsoft tahun 2022, tingkat digital civility masyarakat Indonesia masih tergolong rendah, yang mencerminkan lemahnya kemampuan bersikap etis di ruang digital.
Menurutnya, jika persoalan ini tidak diatasi, akan muncul krisis moral dan sosial sebagaimana digambarkan oleh ilmuwan politik Francis Fukuyama dalam konsep The Great Disruption, kerusakan besar pada tatanan sosial dan nilai kemanusiaan akibat perubahan yang tidak diimbangi moralitas.
Selain itu, Haedar menyoroti munculnya pragmatisme, materialisme, dan hedonisme di kalangan anak muda. Gaya hidup instan dan keinginan untuk mencapai kesuksesan dengan segala cara dinilainya dapat mengikis jati diri bangsa.
“Pragmatisme dan hedonisme yang berkembang bisa merusak mentalitas dan karakter generasi muda yang seharusnya menjadi pewaris cita-cita bangsa,” terangnya.
BACA JUGA : Haedar Nashir Ajak Pancasila sebagai Kompas Ideologis Etika Bernegara
BACA JUGA : Usulan Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Haedar Nashir: Bangun Dialog untuk Rekonsiliasi
Menutup refleksinya, Haedar menyerukan agar pemuda Indonesia meneladani nilai kegigihan dan semangat persatuan para perintis Sumpah Pemuda. Dia mengingatkan agar generasi muda tidak hidup bergantung pada privilese dan proteksi keluarga.
“Kaum muda Indonesia jangan bersembunyi di balik jubah kesuksesan dan proteksi orang tua. Jadilah diri sendiri yang sukses meraih masa depan dengan jiwa mandiri sembari tetap menghormati orang tua,” tandas Haedar.