Alumni LPDP Enggan Pulang ke Indonesia, Rocky Gerung Soroti Krisis Kepercayaan pada Masa Depan

Alumni LPDP Enggan Pulang ke Indonesia, Rocky Gerung Soroti Krisis Kepercayaan pada Masa Depan

Pengamat politik Rocky Gerung menyampaikan pandangan tentang kegelisahan generasi, kritik kekuasaan, dan dilema mahasiswa luar negeri dalam diskusi publik di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Senin (16/2/2026).--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id

YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Diskusi tentang masa depan generasi tak selalu berjalan serius dan tegang. 

Dalam forum bertema spirit kemanusiaan, pendidikan, dan keadilan yang digelar Pandu Negeri di Taman Budaya Embung Giwangan, Senin (16/2/2026) kritik sosial justru disampaikan dengan selipan humor yang memancing tawa peserta.

Pengamat politik, Rocky Gerung mengatakan, persoalan terbesar generasi saat ini bukan hanya soal masa depan ekonomi atau pendidikan, tetapi juga bagaimana kegelisahan mereka dipersepsikan oleh kekuasaan.

“Kita berpikir tentang kegenerasian, lalu melihat bahwa kegelisahan generasi justru dianggap sebagai subversi terhadap kekuasaan,” katanya. 

Ia menyinggung situasi ketika kritik atau upaya berpikir ulang terhadap ideologi dan sistem kekuasaan justru berujung pada penindakan.

Menurutnya, hal itu menunjukkan paradoks besar dalam kehidupan sosial politik hari ini.

BACA JUGA : Lulus Cumlaude, Liring Mahasiswa Tunarungu UNY Bukti Pendidikan Inklusif

BACA JUGA : RSUD Brebes dan Fakultas Kedokteran UPS Tegal Teken Kerja Sama Rumah Sakit Pendidikan Utama

“Masih ada ratusan orang ditahan. Jika ada generasi yang berupaya membawa kembali ide-ide ke pusat pemikiran Mao Zedong, ratusan orang ditahan,” ujarnya.

Ia menilai, respons semacam itu justru menegaskan bahwa generasi muda sedang aktif berpikir dan menguji gagasan yang ada. 

Dalam pandangannya, tindakan represif terhadap pemikiran kritis justru memperlihatkan ketegangan antara kekuasaan dan kesadaran intelektual masyarakat.

“Itu justru menunjukkan bahwa mereka berpikir. Mereka melakukan tinjauan kritis terhadap kekuasaan,” jelasnya.

Meski membahas tema berat, ia menyampaikannya dengan gaya khas yang kerap memancing tawa. 

Ia mengingatkan bahwa humor sering kali menjadi cara paling jujur untuk melihat kenyataan yang terasa absurd.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: