Kisah Seniman Mural Eko Virgi asal Yogyakarta yang Mengalirkan Seni dari Hati

Sabtu 27-09-2025,17:17 WIB
Reporter : Anam AK
Editor : Syamsul Falaq

Eko juga sempat mengerjakan mural bertema PSIM Jogja, klub sepak bola kebanggaan Yogyakarta, yang dibuat bersama komunitas Braja Shelter di belakang kantor KUA Ngampilan. 

BACA JUGA : 9 Seniman dan 20 Pengelola Bangunan Cagar Budaya Terima Penghargaan dari Pemkot Yogyakarta

BACA JUGA : Penghargaan Seniman dan Budayawan Yogyakarta, Didik Ninik Thowok Raih Seniman Kategori Pelestari Seni

Dia bertugas menggambar wajah-wajah tokoh PSIM secara realis, sementara rekan-rekannya menangani lettering.

Meski dikenal sebagai seniman mural, Eko menegaskan bahwa dirinya tidak pernah terlibat dalam aksi mural-mural yang bernuansa kritik sosial yang sempat ramai diberitakan, terutama yang bersinggungan dengan aparat.


Seniman mural Yogyakarta Eko Darwanto, yang lebih dikenal dengan nama panggung Eko Virgi, sudah menekuni dunia seni sejak awal 1990-an dengan memiliki perjalanan karier yang penuh warna. --Foto: Anam AK/diswayjogja.id

“Saya gambar untuk dinikmati. Bukan mural jalanan yang provokatif. Saya murni berkesenian, bukan aktivisme,” tegasnya.

Setelah keluar dari dunia formal kerja pada tahun 2018, Eko sempat membantu usaha keluarga dalam distribusi es batu ke kantor-kantor minuman segar.

BACA JUGA : Seniman dan Budayawan Ingatkan Yogyakarta Punya Potensi Besar Membangun Indonesia Menyala

BACA JUGA : Budayawan Kota Tegal Dorong Perguruan Tinggi Teliti Simbol Karakter Daerah

Namun sejak pandemi Covid-19 dan wafatnya sang ayah, dia mulai menekuni dunia klitikan, khususnya berjualan stiker keliling di pasar-pasar tradisional sesuai hari pasaran seperti Wage di Pengasih hingga Pasar Kliwon di Bantul. 

Meskipun pekerjaannya kini lebih beragam, dari jual beli sepeda hingga kerajinan stiker, Eko tetap membuka diri terhadap pesanan mural dan karya seni sesuai permintaan.

“Dulu juga sempat airbrush mobil, lukis dinding TK, bahkan ikut proyek desain. Tapi kalau ditanya saya ini seniman apa, ya saya bilang saya seniman. Muralis, tapi juga desainer,” tuturnya merendah.

Untuk generasi muda, Eko berpesan agar tetap mengasah keterampilan manual di tengah era digital.

“Sekarang semua serba teknologi, tapi skill pribadi tetap harus diasah. Jangan terlalu bergantung, karena yang benar-benar punya nilai itu ya skill yang orisinal,” pungkasnya.

Kategori :