BACA JUGA : Petani Muda Indonesia Akan Tampil di Fiji 2026, Bawa Praktik Baik ke Asia Pasifik
Tak hanya itu, sektor hortikultura juga menunjukkan potensi luar biasa. Data BPS dan FAO mencatat nilainya Rp500 triliun per tahun. Meski demikian, sebagian kebutuhan dalam negeri tetap diisi oleh produk luar negeri.
“Itu seharusnya bisa dikuasai oleh rakyat Indonesia, bukan malah sebagian masih impor. Ini peluang emas bagi pemuda-pemudi tani di desa-desa,” jelasnya.
Selain pangan utama, produk turunan desa juga memiliki pasar besar. Ia menyebut gula aren organik yang harganya bisa mencapai tiga sampai empat kali lipat lebih tinggi di pasar ekspor dibanding harga lokal.
Tak kalah penting, tanaman herbal dan jamu juga disebut sebagai “harta karun desa” yang belum tergarap optimal.
BACA JUGA : Wujudkan Ketahanan Pangan, Petani Brebes Didorong Percepat Tanam Padi Saat Panen Raya Maret Hingga April
Menurut data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pasar domestik jamu dan herbal pada 2025 diperkirakan mencapai Rp25 triliun, tetapi 40 persen bahan bakunya masih impor.
Menurutnya, semua data itu menunjukkan bahwa kemandirian pangan dan kekayaan hayati desa merupakan pintu masuk menuju kedaulatan ekonomi nasional. Pemuda-pemudi desa diharapkan berani menjadi aktor utama.