“Gunungan yang nanti dibagikan kepada masyarakat adalah simbol kemurahan hati raja. Nilai terpenting bukan pada siapa mendapat bagian terbesar, tetapi bagaimana kita bersama-sama merasakan berkah dan kebersamaan,” tuturnya.
Bagi masyarakat Yogyakarta, prosesi Numplak Wajik tidak hanya ritual yang dijalankan turun-temurun.
Tradisi ini juga merekatkan hubungan antara raja dan rakyat, memperlihatkan bahwa budaya adalah jalan kebersamaan sekaligus ruang spiritual.
Lebih jauh, prosesi ini juga berperan sebagai sarana pendidikan budaya bagi generasi muda.
Mereka bisa menyaksikan bagaimana falsafah Jawa diterjemahkan ke dalam praktik nyata, melalui tradisi yang penuh simbol dan makna.
BACA JUGA : Mural di Yogyakarta Dihapus, Seniman Sebut Pembungkaman Eskpresi Seni
BACA JUGA : Siap Hadapi Potensi Bencana, 10 Sekolah di Kota Yogyakarta Dibekali Pelatihan Tangguh Bencana
“Kami berharap, masyarakat tidak hanya menyaksikan, tetapi juga meresapi nilai luhur tradisi ini. Syukur, doa, dan kebersamaan adalah warisan yang harus terus dijaga,” imbuhnya.
Dengan demikian, Numplak Wajik bukan sekadar acara budaya, melainkan wujud nyata dari filosofi Jawa.
Dari pondasi wajik lahirlah gunungan; dari gunungan, tercermin kebersamaan raja dan rakyat yang dipersatukan oleh syukur kepada Sang Pencipta.