SLEMAN, diswayjogja.id - Menjadi anggota Paskibra bukan sekadar kebanggaan, tetapi juga perjuangan fisik dan mental yang berat.
Setiap detik latihan, setiap langkah baris-berbaris, menuntut disiplin tinggi dan ketahanan diri.
Bagi Febrina Rahmania Putri, 16 tahun, dari SMA Negeri 2 Sleman, pengalaman pertama mengikuti Paskibra menghadirkan tantangan yang luar biasa, bahkan melebihi ekspektasinya.
“Iya, kali pertama saya ikut Paskibra,” katanya sambil tersenyum, mengenang momen awal menghadapi pelatihan ketat yang penuh disiplin.
BACA JUGA : Dari Panggung Nasional ke Sekolah Rakyat: Putri Nusantara Yogyakarta Dorong Sinergi Pendidikan Berkualitas
BACA JUGA : Penampilan Paskibraka Sleman Jadi Sorotan HUT RI ke-80, Bupati Berikan Apresiasi
Senyum itu menyiratkan kebanggaan sekaligus kesadaran akan perjuangan panjang yang telah ia lalui.
Baginya, Paskibra bukan hanya soal tampilan seragam rapi dan upacara yang megah, tetapi tentang menaklukkan keterbatasan diri sendiri.
Ia mengakui, perjalanan menuju keberhasilan tidak mudah dan sarat dengan air mata serta kerja keras.
“Pastinya susah, banyak tangis, banyak kerja keras juga. Tapi alhamdulillah semuanya terbayarkan karena bisa lolos,” ujarnya, menekankan bahwa setiap usaha yang dilewati membawa hasil yang setimpal.
Proses seleksi yang ketat menuntut kesabaran, ketekunan, dan semangat pantang menyerah, terutama bagi peserta yang baru pertama kali mengikuti ajang ini.
Selama beberapa hari karantina, Febrina hampir merasa putus asa.
“Waktu itu hampir beberapa hari karantina itu saya drop, jadi benar-benar itu sedih banget,” kenangnya.
Hari-hari itu menjadi ujian bagi fisik maupun mentalnya, ketika rasa lelah dan tekanan latihan mencapai puncaknya.
BACA JUGA : Ini Anggota Penugasan Paskibraka HUT Ke-80 RI di Balai Kota Yogyakarta