"Ini menggambarkan perjalanan antara menjaga keseimbangan kekuatan baik dan jahat, serta tantangan besar dalam memilih jalan yang benar untuk menyelamatkan desa," tutur Made.
BACA JUGA : Libur Lebaran 2025, Wisatawan Padati Kawasan Malioboro Yogyakarta
BACA JUGA : Cegah Nuthuk Harga kepada Wisatawan, Pemkot Yogyakarta Pasang Papan Harga Menu
Ogoh-ogoh Sang Jagor Manik, diinterpretasikan sebagai simbol pengendalian diri di mana kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya mengingatkan manusia untuk tidak terlena oleh kemudahan teknologi.
"Sang Jogor Manik dapat menjadi pengingat untuk menjaga keseimbangan antara penggunaan teknologi dan kehidupan sosial. Penggunaan teknologi yang berlebihan dapat mengganggu keseimbangan ini, menyebabkan isolasi sosial dan hilangnya nilai-nilai tradisional," tandasnya.
Selain pawai ogoh-ogoh, juga digelar pawai Bregada dari tiga Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), yaitu Bregada Jagabaya dari Pokdarwis Kadipaten, Bregada Gamelan dari Pokdarwis Patehan, serta Bregada Mangunegaran dari Pokdarwis Panembahan.