Kelembapan Udara Kering Hambat Pembentukan Awan Hujan, DIY Diprakirakan Cerah Berawan
Kelembapan udara yang relatif kering di lapisan atmosfer menjadi salah satu faktor berkurangnya potensi pembentukan awan hujan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). --FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id
YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Kelembapan udara yang relatif kering di lapisan atmosfer menjadi salah satu faktor berkurangnya potensi pembentukan awan hujan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kondisi ini membuat cuaca di wilayah DIY diprakirakan cerah berawan selama 16–18 Oktober 2026, meski masyarakat tetap perlu mewaspadai peningkatan tinggi gelombang laut pada Minggu (18/10).
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Yogyakarta, kelembapan udara pada ketinggian 3–5 kilometer atau lapisan tekanan 700 dan 500 milibar berada pada kisaran 30–60 persen. Kondisi udara yang relatif kering tersebut mengurangi ketersediaan uap air yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan awan hujan.
“Kelembapan udara pada ketinggian 3 hingga 5 kilometer yang relatif kering, yakni berkisar 30–60 persen, menyebabkan potensi pertumbuhan awan hujan berkurang. Selain itu, tidak terpantau adanya gangguan atmosfer yang signifikan di sekitar Pulau Jawa,” jelas Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Feriomex Hutagalung.
Selain kelembapan udara, pola angin timuran yang mendominasi wilayah Jawa, termasuk DIY, turut menjadi bagian dari kondisi atmosfer yang dianalisis BMKG. Angin bertiup dari arah timur hingga selatan.
BACA JUGA:Sumur Kering Bisa Didalamkan 1 hingga 4 Meter, Ini Saran Pakar UGM Hadapi Kekeringan di Yogyakarta
BACA JUGA:BMKG Belum Indikasikan Hujan, Kekeringan Masih Mengancam Gunungkidul
BMKG juga mencatat tidak adanya gangguan atmosfer signifikan di sekitar Pulau Jawa. Kombinasi kondisi tersebut membuat peluang pertumbuhan awan hujan menjadi lebih rendah selama periode prakiraan.
Faktor lainnya adalah suhu muka laut di Laut Jawa dan Samudra Hindia selatan Jawa yang terpantau berkisar 24–28 derajat Celsius. BMKG mencatat anomali suhu muka laut sebesar minus 1 hingga minus 3 derajat Celsius. Kondisi ini menunjukkan suhu muka laut berada di bawah kondisi normal menurut analisis yang disampaikan, sehingga potensi ketersediaan massa uap air di atmosfer juga lebih rendah dari biasanya.
Secara sederhana, pembentukan awan hujan membutuhkan pasokan uap air yang cukup dan kondisi atmosfer yang mendukung udara naik, mendingin, lalu mengalami kondensasi. Ketika udara relatif kering dan gangguan atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan tidak signifikan, proses pembentukan awan hujan dapat terhambat.
Dalam prospek cuaca tiga harian yang dikeluarkan pada Kamis (15/10), BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta memprakirakan cuaca DIY pada Jumat (16/10), Sabtu (17/10), dan Minggu (18/10) secara umum cerah berawan.
BACA JUGA:Ancaman Kekeringan Mengintai Kota Yogyakarta, Air Tanah Disebut Turun 50 Cm per Tahun
BACA JUGA:Kekeringan Mengancam, Guru Besar UGM Dorong Warga Hidupkan Lagi Budaya Panen Air Hujan
Meski demikian, kondisi cerah berawan bukan berarti seluruh wilayah akan selalu bebas dari awan ataupun hujan. Perkembangan cuaca dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer sehingga masyarakat tetap disarankan memperbarui informasi melalui kanal resmi BMKG.
Di tengah potensi berkurangnya pertumbuhan awan hujan, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan saat cuaca panas. Warga diimbau mencukupi kebutuhan air minum, membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, serta menghindari aktivitas yang berisiko memicu kebakaran.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

