UMKM Sleman Digembleng Naik Level, Digitalisasi dan Pemasaran Jadi Tantangan Utama
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Sleman terus didorong untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, terutama dalam memperluas pemasaran produk.--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Sleman terus didorong untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, terutama dalam memperluas pemasaran produk. Dinas Koperasi dan UMKM Sleman melalui pendampingan dan kolaborasi dengan perguruan tinggi berupaya membantu pelaku UMKM menghadapi tantangan pemasaran, kemampuan digital, hingga keterbatasan akses pendampingan yang masih menjadi persoalan di lapangan.
Kepala Bidang Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UMKM Sleman, Sri Wara Nusandari, mengatakan persoalan yang dihadapi UMKM pada dasarnya cukup beragam. Namun, selain permodalan, pemasaran menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.
"Memang yang menjadi permasalahan utama di UMKM itu terkait permodalan dan pemasaran. Tetapi hari ini kami fokus kepada pemasaran, khususnya pemasaran digital," kata Sri Wara kepada Disway Jogja, Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat kemampuan digital semakin penting bagi pelaku UMKM. Produk yang bagus sekalipun akan menghadapi tantangan ketika pelaku usahanya tidak mampu memanfaatkan kanal digital untuk mengenalkan dan memasarkan produknya.
BACA JUGA : Dibiayai Dana Keistimewaan, Sleman Genjot UMKM Lewat Sleman Creative Week 2026
BACA JUGA : Lampu Retro dari Semin Tembus Pasar Mancanegara, UMKM Garotan Bertahan Puluhan Tahun
Sri Wara melihat masih ada pelaku UMKM, terutama yang sudah berusia lebih matang, yang mengalami kesulitan ketika harus beradaptasi dengan teknologi digital.
"Kalau yang sudah seusia saya, melihat digital itu kadang suka bingung. Tetapi anak-anak muda berbeda. Mereka bisa memasuki pasar melalui digital sehingga produknya bisa dikenal masyarakat luas, bahkan secara global," ujarnya.
Karena itu, menurut Sri Wara, pola pemasaran UMKM tidak bisa lagi hanya mengandalkan penjualan secara konvensional. Pasar fisik tetap penting, tetapi pemasaran melalui platform digital juga harus mulai dikuasai.
Dinkop Sleman kemudian mengembangkan sejumlah pola pendampingan, salah satunya melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi. Mahasiswa dilibatkan untuk membantu pelaku UMKM sesuai kebutuhan yang mereka hadapi.
BACA JUGA : Mayoritas UMKM di Jogja Dikelola Perempuan, Kini Punya Peluang Masuk Pasar Lebih Luas
BACA JUGA : Tour Kereta Kelinci Dorong Wisata dan UMKM Kerajinan dan Kuliner di Bantul Barat
Program tersebut menjadi ruang bagi UMKM untuk menyampaikan persoalan secara langsung, mulai dari kebutuhan peningkatan kemampuan digital, pemasaran, hingga persoalan komunikasi.
"Kami mencari solusi bersama. UMKM punya permasalahan apa, disampaikan kepada kami. Misalnya perlu peningkatan digital atau pemasaran, kemudian kami data dan bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk menerjunkan mahasiswa sebagai pendamping," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: