Dulu Susah Sinyal, Kini 24 Pantai di DIY Punya WiFi Gratis 100 Mbps

Dulu Susah Sinyal, Kini 24 Pantai di DIY Punya WiFi Gratis 100 Mbps

Pemda DIY menghadirkan WiFi gratis 100 Mbps di 24 titik kawasan Pantai Selatan Bantul dan Gunungkidul, untuk mempermudah komunikasi, mendukung keselamatan wisata, dan memperkuat ekonomi UMKM pesisir.--dok. Pemda DIY

BANTUL, diswayjogja.id - Kawasan Jalur Jalan Lainnya dan Pantai Selatan (Pansela) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang selama ini dikenal sebagai wilayah dengan keterbatasan sinyal kini mulai bertransformasi secara digital. 

Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) DIY resmi menghadirkan layanan internet gratis berkecepatan hingga 100 Mbps di 24 titik strategis yang tersebar di Kabupaten Gunungkidul dan Bantul.

Layanan yang mulai beroperasi sejak 2 September 2026 tersebut tidak hanya memudahkan wisatawan, tetapi juga membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat pesisir, mulai dari komunikasi darurat hingga transaksi digital bagi pelaku UMKM.

Dukuh Putat, Kalurahan Songbanyu, Kapanewon Girisubo, Gunungkidul, Slamet Sutrisno, mengatakan keberadaan WiFi gratis menjadi solusi atas persoalan komunikasi yang selama ini sering dihadapi warga.

BACA JUGA:AJI Yogyakarta: Pernyataan 'Londo Ireng' Presiden Prabowo Cerminkan Nuansa Orde Baru di Era Internet

BACA JUGA:Buruh DIY Tolak Beban WFH Dialihkan ke Pekerja, Minta Kompensasi Listrik dan Internet

Menurutnya, sebelumnya warga kerap kesulitan membantu wisatawan yang mengalami kendala di kawasan pantai karena minimnya jaringan komunikasi.

“Sebelum ada WiFi dari Kominfo DIY, kalau ada wisatawan yang kendaraannya mogok, kami kebingungan setengah mati untuk menghubungi keluarga mereka. Pedagang kecil kalau kehabisan stok es atau bahan jualan juga harus pulang jauh ke rumah,” ujar Slamet, Sabtu (12/9/2026).

Tak hanya mempermudah komunikasi, akses internet juga mulai mengubah cara pelaku usaha lokal bertransaksi.

Slamet mengungkapkan para pedagang tradisional kini mulai memanfaatkan pembayaran digital menggunakan QRIS maupun dompet digital setelah banyak wisatawan meminta opsi pembayaran non-tunai.

BACA JUGA:Dokter Gadungan di Bantul Tipu Pasien hingga Setengah Miliar, Belajar Otodidak dari Internet

BACA JUGA:Kasus Korupsi Eks Kadiskominfo Sleman, Bupati Harda Ingatkan Pentingnya Nilai Keagamaan bagi ASN

“Awalnya kami wong dusun ya tidak paham, tahunya cuma bayar cash. Tapi begitu ada WiFi, anak-anak muda dan wisatawan mulai tanya ‘Mas, bisa barcode tidak?’. Dari situ warga penasaran dan belajar,” katanya.

Dia menyebut sebagian pedagang bahkan belajar mendaftar QRIS dengan bantuan anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait