Bedah Buku #Reset Indonesia di Sleman Soroti Perlunya Perubahan Paradigma Berbangsa
Bedah Buku #Reset Indonesia di Sleman Soroti Perlunya Perubahan Paradigma Berbangsa--FOTO : Ist/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id – Di tengah dinamika sosial dan politik yang terus menghangat, Indata Komunika Cemerlang menggelar bedah buku #Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru di Masjid Nurul Ashri, Deresan, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta senin sore (10/8)
Buku karya Dandhy Laksono, Farid Gaban, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu tersebut dibedah bersama Dandhy Laksono dan Farid Gaban selaku penulis, serta Zainal Arifin Mochtar, pakar tata negara.
Diskusi mengangkat sejumlah persoalan mendasar mengenai arah Indonesia, mulai dari paradigma pembangunan, kebijakan publik, demokrasi, partisipasi masyarakat hingga relasi antara negara dan warga.
Dandhy Laksono menjelaskan alasan buku #Reset Indonesia tetap diterbitkan meski gagasan serupa telah diangkat melalui film. Menurutnya, film memiliki keterbatasan dalam menyampaikan gagasan dan imajinasi mengenai masa depan.
BACA JUGA : Budiman Sudjatmiko Sesalkan Dialog di UGM Berakhir Ricuh, Tegaskan Tetap Siap Berdiskusi
BACA JUGA : JPW: Pengawasan Diskusi Buku oleh Aparat Berlebihan dan Ancam Kebebasan Berpendapat
“Film hanya mampu memotret apa yang kasat mata. Visual memberitahu apa yang terjadi, tetapi tidak mampu menampung keresahan, kegelisahan, dan imajinasi masa depan,” kata Dandhy.
Ia menilai persoalan terbesar Indonesia bukan sekadar persoalan visual, melainkan paradigma.
“Masalah terbesar Indonesia bukan visual, tetapi paradigmatik,” ujarnya.
Menurut Dandhy, buku tersebut mengajak pembaca membayangkan Indonesia yang lebih baik, termasuk hal-hal sederhana yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA : Forum Bank Sampah Giwangan, Ikhtiar Hidup Bersih dan Menambah Tabungan Warga Giwangan
BACA JUGA : Buku Langka Berusia Seabad Rekam Palestina yang Damai Sebelum Konflik, Jadi Saksi Sejarah Bernilai Tinggi
Ia mencontohkan akses air minum langsung dari keran. Menurutnya, sesuatu yang sederhana di sejumlah negara justru masih terasa seperti sebuah kemewahan di Indonesia.
“Buku ini adalah ruang untuk membayangkan apa yang seharusnya terjadi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: