Setahun Sebelum Keraton Berdiri, Sultan HB I Tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang

Setahun Sebelum Keraton Berdiri, Sultan HB I Tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang

Setahun Sebelum Keraton Berdiri, Sultan HB I Tinggal di Ambarketawang: Jejak Awal Hari Jadi Yogyakarta Masih Tersisa--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id– Tak banyak yang mengetahui bahwa sebelum menempati Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sultan Hamengku Buwono I terlebih dahulu bermukim di sebuah pesanggrahan sederhana di Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman. Dari tempat inilah cikal bakal pemerintahan Kesultanan Yogyakarta dijalankan sembari mengawasi pembangunan keraton yang kini menjadi ikon Kota Yogyakarta.

Pesanggrahan Ambarketawang dibangun sebagai kediaman sementara Sultan Hamengku Buwono I setelah berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 1755. Lokasinya dipilih karena berdekatan dengan kawasan Gunung Gamping, sumber utama batu kapur yang digunakan sebagai material pembangunan keraton.

Pelestari budaya, Sugito, menjelaskan bahwa Sultan memiliki dua tujuan utama tinggal di Ambarketawang. Selain menunggu proses pembangunan keraton selesai, Sultan juga dapat memimpin pemerintahan sekaligus mengawasi penambangan batu di Gunung Gamping yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari pesanggrahan.

"Pesanggrahan Ambarketawang menjadi tempat tinggal Sultan Hamengku Buwono I selama pembangunan Keraton Yogyakarta berlangsung. Dari sini beliau memimpin pemerintahan sekaligus mengawasi penambangan batu di Gunung Gamping untuk kebutuhan pembangunan keraton," ujar Sugito.

BACA JUGA : Sultan HB IX, Raja Intelektual yang Menyelamatkan Republik Saat Kas Negara Kosong

BACA JUGA : Jejak Lahirnya Keraton Yogyakarta Ada di Sragen, Sri Sultan HB X Napak Tilas Situs Bersejarah

Saat itu, kawasan yang dipilih sebagai lokasi keraton masih berupa hutan beringin yang berada di antara Sungai Code dan Sungai Gajahwong. Setelah pembangunan dinilai cukup selesai, Sultan Hamengku Buwono I bersama keluarga dan perangkat kerajaan melakukan boyongan ke Keraton Ngayogyakarta pada 7 Oktober 1756.

Peristiwa boyongan tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Yogyakarta, karena menandai mulai berfungsinya Keraton Ngayogyakarta sebagai pusat pemerintahan Kesultanan sekaligus menjadi tonggak lahirnya Kota Yogyakarta.

Menurut Sugito, Sultan menempati Pesanggrahan Ambarketawang sekitar satu tahun, yakni sejak 1755 hingga 1756. Meski memiliki nilai sejarah yang sangat penting, kondisi situs kini sudah jauh berubah.

"Yang masih tersisa hanya pendopo kecil, sumur tua, dan bunker. Dinding keliling pesanggrahan sebagian besar sudah runtuh. Sumurnya pun sudah direnovasi sehingga bentuk aslinya tidak lagi terlihat," katanya.

BACA JUGA : Dua Serangan Besar Ini Nyaris Membuat Eksistensi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Hilang

BACA JUGA : Lebih Tua Dari Kesultanan Yogyakarta, Masjid Gedhe Mataram Kotagede Simpan Jejak Filosofi dan Sejarah Mataram

Ia menambahkan, bunker yang diperkirakan berdiameter sekitar 1,5 meter kini juga hampir hilang karena tertimbun tanah. Bagian yang masih tampak hanya tonjolan menyerupai punggung dengan susunan batu bata di permukaan tanah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: