Batu Gamping Eosen Ambarketawang, Saksi Berdirinya Yogyakarta yang Kini Jadi Laboratorium Alam
Batu Gamping Eosen Ambarketawang, Saksi Berdirinya Yogyakarta yang Kini Jadi Laboratorium Alam--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id – Di balik nama Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, tersimpan jejak sejarah panjang yang berkaitan erat dengan lahirnya Kesultanan Yogyakarta. Kawasan Batu Gamping Eosen Ambarketawang bukan hanya menyimpan warisan geologi berusia sekitar 54–36 juta tahun, tetapi juga menjadi sumber material pembangunan Keraton Yogyakarta, Benteng Keraton, hingga Tamansari pada masa awal berdirinya kerajaan.
Saat ini, kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai Geosite GS12, sekaligus Biosite BS2 dan BS3 dalam Geopark Jogja. Selain memiliki nilai geologi tinggi, kawasan ini juga berstatus Cagar Alam Batu Gamping dan dikelola di bawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta.
Batu gamping merupakan batuan yang mengandung lebih dari 90 persen kalsium karbonat (CaCO₃). Di Ambarketawang, para ahli menemukan fosil foraminifera seperti Pellatispira orbitoidae, Discocyclina dispansa, dan Nummulites gerthi yang menjadi bukti bahwa endapan batu kapur tersebut berasal dari zaman Eosen ketika wilayah Yogyakarta masih berada di lingkungan laut purba.
Menurut salah seorang pelestari Cagar Alam Batu Gamping, Sugito (74), masyarakat Jawa menyebut batu kapur sebagai gamping. Nama itulah yang kemudian menjadi asal-usul penamaan wilayah Gamping.
BACA JUGA : Jejak Lahirnya Keraton Yogyakarta Ada di Sragen, Sri Sultan HB X Napak Tilas Situs Bersejarah
BACA JUGA : Tak Ada Gunungan Keluar Keraton Saat Garebeg Besar 2026, Ini Penjelasannya
"Batu gamping ini merupakan batu kapur yang dianggap paling kuat dan paling keras. Dalam bahasa Jawa, kapur disebut gamping, sehingga wilayah ini kemudian dikenal sebagai Gamping," ujarnya kepada diswayjogja, selasa (21/7).
Sugito menuturkan, kawasan batu gamping dahulu bukan hanya berupa bukit kecil seperti sekarang. Hamparan bukit kapur membentang sangat luas, mulai dari kawasan timur yang kini berada di sekitar Pasar Gamping hingga ke lokasi sisa bukit batu gamping yang masih tersisa saat ini.
Menurutnya, ketika Kesultanan Yogyakarta mulai didirikan pada 1755–1756, kawasan tersebut menjadi lokasi utama pengambilan batu untuk pembangunan berbagai bangunan penting keraton.
"Selama kurang lebih satu tahun, batu diambil secara manual untuk membangun Keraton, benteng pertahanan, hingga Tamansari. Batu-batu itu diangkut menggunakan pedati yang ditarik sapi maupun kerbau menuju Keraton yang berjarak sekitar 10 kilometer," katanya.
BACA JUGA : Mataram Tak Selalu 'Merah' atau 'Biru', Kuras Enceh di Imogiri Jadi Simbol Harmoni Dua Keraton
BACA JUGA : Tetenger Watulangkah, Saksi Perjuangan Gerilya di Gamping yang Menyimpan Jejak SWK 103
Informasi pada papan interpretasi geosite juga mencatat bahwa di kaki perbukitan inilah Sri Sultan Hamengkubuwono I sempat mendirikan pesanggrahan sementara sebelum pembangunan Keraton Yogyakarta rampung. Bahkan, naturalis asal Belanda Franz Wilhelm Junghuhn yang menjelajahi Jawa pada 1836–1839 pernah menggambarkan kawasan Gunung Gamping sebagai bukit batu kapur yang menjulang di dekat aliran sungai.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
