Cat Hitam Tak Hapus Harapan: Suporter PSIM Desak Transparansi Mandala Krida
Penghapusan mural yang menyoroti dugaan korupsi renovasi Stadion Mandala Krida memunculkan tanda tanya di kalangan suporter.--FOTO : Ist /diswayjogja.id
YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Cat hitam yang menutupi mural bertuliskan "Usut Tuntas Korupsi Mandala" di kawasan Ketandan, Malioboro, mungkin berhasil menghilangkan tulisan dari pandangan mata. Namun bagi suporter PSIM Yogyakarta, cat itu tidak mampu menghapus harapan yang selama ini mereka perjuangkan: melihat Stadion Mandala Krida kembali menjadi rumah bagi Laskar Mataram.
Penghapusan mural yang menyoroti dugaan korupsi renovasi Stadion Mandala Krida memunculkan tanda tanya di kalangan suporter. Pasalnya, yang ditutup hanya tulisan kritik terkait dugaan korupsi, sementara mural bertuliskan "PSIM Jogja" di lokasi yang sama tetap dibiarkan.
Bagi para pendukung PSIM, persoalan ini lebih dari sekadar mural yang dihapus. Mereka melihatnya sebagai bagian dari aspirasi publik yang menginginkan keterbukaan atas persoalan yang membuat stadion kebanggaan warga Yogyakarta itu tak kunjung lepas dari polemik.
"Yang kami inginkan sebenarnya sederhana, ada transparansi dan kejelasan. Kami ingin Mandala Krida bisa kembali digunakan secara maksimal dan PSIM bisa bermain di rumahnya sendiri," ungkap sejumlah suporter.
BACA JUGA : Suporter Bentangkan Spanduk Mandala Krida di Laga PSIM, Ini Respons Liana Tasno dan Hasto Wardoyo
BACA JUGA : Renovasi Stadion Mandala Krida Masih Bertahap, DPRD DIY Minta PSIM Bersabar
Kerinduan terhadap Mandala Krida bukan tanpa alasan. Stadion tersebut memiliki nilai historis dan emosional bagi para pendukung Laskar Mataram. Karena itu, setiap persoalan yang menghambat pemanfaatan stadion selalu menjadi perhatian besar bagi suporter.
Aktivis Jogja Corruption Watch (JCW), Baharuddin Kamba, menilai kritik yang disampaikan melalui mural merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam mengawal penggunaan anggaran publik.
"Masyarakat berhak mengawasi dan menyuarakan aspirasi terkait dugaan korupsi. Kritik sosial seperti ini seharusnya dilihat sebagai bagian dari kontrol publik," ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Guyub Seni Mataram, Wage, menjelaskan bahwa mural tersebut dibuat setelah berkoordinasi dengan warga sekitar dan pemilik bangunan. Karena itu, penghapusan tulisan kritik tanpa penjelasan yang terbuka memunculkan pertanyaan baru di tengah masyarakat.
BACA JUGA : DPRD DIY Anggarkan Rp1 Miliar untuk Kajian Teknis Stadion Mandala Krida, DED Paling Cepat 2027
BACA JUGA : Stadion Mandala Krida Masih Aktif Disewa, Fasilitas Liga Profesional Jadi PR Renovasi
Bagi suporter PSIM, kasus ini pada akhirnya kembali bermuara pada satu harapan besar: adanya transparansi dan penyelesaian persoalan secara tuntas. Mereka meyakini keterbukaan informasi akan membantu memulihkan kepercayaan publik sekaligus mempercepat jalan bagi Mandala Krida untuk kembali berfungsi sebagaimana mestinya.
Cat hitam mungkin mampu menutupi tulisan di tembok. Namun semangat suporter untuk mengawal transparansi dan memperjuangkan kembalinya PSIM ke Mandala Krida diyakini tidak akan mudah dihapus. Sebab bagi mereka, Mandala Krida bukan sekadar stadion, melainkan bagian dari identitas dan kebanggaan warga Yogyakarta.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: