Kasus Pengeroyokan Bantul, Disdikpora Jogja Sebut Solidaritas Pelajar Bisa Picu Kekerasan
Ketua Tim Kerja Pembinaan Kepemudaan, Disdikpora Jogja, Mugi Suyatno, Kamis (23/4/2026), menyoroti fenomena geng pelajar usai kasus pengeroyokan di Bantul. Kelompok solidaritas disebut ada di hampir semua sekolah dan berpotensi picu konflik.--FOTO: Anam AK/diswayjogja.id
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta menyoroti fenomena kelompok pelajar atau yang kerap disebut “geng sekolah” usai kasus kekerasan yang menimpa pelajar di Bantul.
Ketua Tim Kerja Pembinaan Kepemudaan Disdikpora Kota Yogyakarta, Mugi Suyatno, menyebut kejadian tersebut menjadi keprihatinan bersama karena berdampak pada keamanan, tidak hanya di Yogyakarta tetapi juga secara nasional.
“Ini keprihatinan kita semua, bagaimana tindakan personal akhirnya menjadi gangguan keamanan. Apalagi korbannya usia pelajar, tentu ini menjadi atensi kita bersama,” ujarnya saat ditemui di Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Kamis (23/4/2026).
Dia menyebutkan, selama jam kegiatan belajar mengajar, pengawasan terhadap pelajar sudah dilakukan secara maksimal oleh pihak sekolah.
BACA JUGA : Pengeroyokan Pelajar Bantul hingga Tewas, JPW Desak RDPU ke Komisi III DPR RI
BACA JUGA : Polisi Kejar Pelaku Pengeroyokan Ilham Dwi Saputra, Dua Orang Ditahan
“Dari kegiatan kelas sampai ekstrakurikuler sore hari, itu dalam pengawasan penuh sekolah,” katanya.
Meski demikian, Mugi mengakui adanya fenomena kelompok pelajar yang memiliki ikatan kuat antaranggota. Namun, menurutnya, kelompok tersebut tidak berbentuk organisasi resmi.
“Kalau disebut geng, ini sifatnya laten. Tidak terorganisir secara kelembagaan, tapi memang ada hampir di semua sekolah dalam bentuk kelompok solidaritas,” jelasnya.
Dia menambahkan, istilah “solidaritas” kerap menjadi pembenaran ketika terjadi konflik antarpelajar.
BACA JUGA : Enam Pemuda Keroyok dan Bakar Motor Dua Korban usai Salah Paham “Blayer” di Sleman
BACA JUGA : Provokasi Curi Topi, Remaja Dikeroyok di Dua Lokasi hingga Tewas
“Bahasa solidaritas itu yang akhirnya bisa menggerakkan secara spontan ketika terjadi gesekan, dan itu bisa mengarah pada tindakan anarkis,” tuturnya.
Disdikpora menilai sebagian besar kasus kekerasan pelajar terjadi di luar jam sekolah, sehingga berada di luar pengawasan institusi pendidikan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: