Bau Sampah Ganggu Sekolah, LBH Laporkan TPS3R Bantul ke Ombudsman DIY
LBH Arya Wiraraja melaporkan dugaan maladministrasi TPS3R Bantul ke Ombudsman DIY, Senin (20/4/2026), warga dan siswa SLB Negeri 2 Bantul terdampak bau menyengat, pencemaran udara, dan air sumur.--dok. IST
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Arya Wiraraja melaporkan dugaan maladministrasi pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Bantul ke Ombudsman RI Perwakilan DIY, Senin (20/4/2026).
Laporan ini diajukan atas nama masyarakat pengguna layanan SLB Negeri 2 Bantul serta warga sekitar yang terdampak pencemaran.
TPS3R yang berlokasi di kawasan Sokowaten, Tamanan, Banguntapan itu disebut berada kurang dari 50 meter dari sekolah dan permukiman warga, serta berada di sempadan Sungai Code.
Sejak beroperasi pada 2023, fasilitas tersebut diduga tidak memenuhi standar teknis maupun perizinan lingkungan.
BACA JUGA : Sampah hingga Bau Andong Disikat, Malioboro Dibersihkan Besar-besaran Sambut Selasa Wage
BACA JUGA : Biopori Jumbo Jogja Hasilkan Ratusan Kilogram Kompos dari Sampah Organik
Kuasa hukum warga, Ibno Hajar, menyebut berbagai upaya pengaduan telah dilakukan, namun belum ada tindak lanjut konkret dari pemerintah daerah.
“Kami tidak menolak pengelolaan sampah sebagai kebutuhan bersama, tetapi lokasi dan cara pengelolaannya tidak boleh mengorbankan pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus dan hak sehat warga. Kami meminta keadilan,” ungkapnya dalam konferensi pers di Kantor ORI DIY.
Sejak 2024 hingga April 2026, warga melaporkan tumpukan sampah kerap melebihi batas waktu 24 jam tanpa pengolahan cepat. Kondisi ini memicu bau menyengat setiap hari, terutama saat pagi hingga siang dan musim hujan.
Kepala SLB Negeri 2 Bantul, Hifna Suprihati, mengungkapkan kondisi tersebut sangat berdampak pada proses belajar mengajar.
BACA JUGA : Sampah Jadi Pemicu Talud Ambrol di Sungai Buntung, Pemkot Soroti Bangunan di Atas Sempadan
BACA JUGA : Tak Masuk UPS Lagi, Sampah Organik Yogyakarta Ditargetkan Tuntas di Kelurahan 2026
“Kondisi ini sangat memilukan. Anak-anak kami yang berkebutuhan khusus sudah memiliki tantangan tersendiri dalam belajar. Ditambah bau busuk dan asap pembakaran sampah setiap hari, konsentrasi mereka buyar,” ujarnya.
Ia menambahkan, beberapa siswa bahkan mengalami gangguan kesehatan seperti sesak napas, sementara guru juga kesulitan mengondisikan kelas.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: