Ribuan Pamong Ikut Kirab Hasil Bumi, Wisatawan Padati Malioboro dan Keraton Yogyakarta
Kirab hasil bumi HUT ke-80 Sultan HB X di Yogyakarta dipadati wisatawan, Kamis (2/4/2026), ribuan pamong dan lurah membawa hasil panen sebagai simbol penghormatan dan gotong royong.--FOTO: Anam AK/diswayjogja.id
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Kawasan Malioboro hingga Keraton Yogyakarta dipadati wisatawan yang ingin menyaksikan kirab budaya dan sowan massal dalam rangka Mangayubagya Yuswa ke-80 Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (2/4/2026).
Ribuan pamong dan lurah se-DIY berjalan beriringan membawa hasil bumi dari daerah masing-masing sebagai bentuk penghormatan kepada raja.
Suasana khas Jawa begitu terasa dengan hiasan janur kuning yang memperindah sepanjang rute kirab, mulai dari Titik Nol Kilometer hingga Alun-Alun Utara.
Antusiasme wisatawan terlihat sejak pagi hari. Banyak di antara mereka sengaja datang untuk menyaksikan tradisi langka tersebut.
BACA JUGA : Malioboro Ditutup 2 April, Kirab HUT ke-80 Sri Sultan HB X Libatkan 12 Ribu Peserta
BACA JUGA : Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Sri Sultan HB X Berharap Tak Ada Korban Lagi
“Jarang banget bisa lihat kirab sebesar ini. Tadi sengaja datang pagi ke Malioboro, ternyata sudah ramai. Seru banget lihat gunungan hasil bumi dari tiap daerah, warna-warni dan unik,” ujar Serly, wisatawan asal Serang.
Tak hanya wisatawan domestik, turis mancanegara juga turut terpukau. Maria, wisatawan asal Meksiko, mengaku beruntung bisa menyaksikan kirab budaya tersebut.
“Saya tidak tahu sebelumnya. Seorang teman di sini memberi tahu kami tentang parade ini dan kami sangat senang bisa melihatnya,” katanya.
Ia menilai tradisi yang ditampilkan memiliki kemiripan dengan budaya di negaranya.
“Ya, sangat bagus. Di Meksiko kami juga punya tradisi seperti ini. Jadi saya merasa menemukan banyak kemiripan dengan Meksiko,” tuturnya.
BACA JUGA : GKR Bendara: Keraton Yogyakarta Genjot Konten Budaya Masuk Data AI dan Algoritma Medsos
BACA JUGA : Keraton Yogyakarta Dorong Generasi Muda Hiasi Media Sosial dengan Budaya Nusantara
Sementara itu, Ketua Paguyuban Lurah DIY Nayantaka, Gandang Hardjanata, menyebut kirab ini sebagai momentum monumental yang menunjukkan kecintaan masyarakat kepada Sultan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: