Talud Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong Diperkuat, Pemkot Yogyakarta Siapkan Rp7,5 Miliar
Pemkot Yogyakarta memperkuat talud Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong dengan anggaran Rp7,5 miliar. Sekitar 30 persen talud masih butuh penanganan untuk cegah longsor akibat cuaca ekstrem.--dok. Pemkot Jogja
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memperkuat infrastruktur talud sungai sebagai langkah mitigasi risiko longsor dan kerusakan tebing akibat cuaca ekstrem.
Berdasarkan Data Teknis Sungai dan Talud Kota Yogyakarta Tahun 2025 milik Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Yogyakarta, total panjang talud di tiga sungai utama mencapai 36.156 meter.
Dari jumlah tersebut, 25.040 meter atau 69,26 persen dalam kondisi baik, sedangkan sisanya masih membutuhkan penanganan bertahap.
Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPUPKP Kota Yogyakarta, Rahmawan Kurniadi, menjelaskan sebagian talud di Kota Yogya masih menggunakan konstruksi lama berupa pasangan batu kali, bahkan ada yang belum memiliki talud permanen. Struktur tersebut dinilai kurang kuat dibandingkan konstruksi beton bertulang yang kini menjadi standar pembangunan baru.
BACA JUGA : Tebing Sungai Pelang Sinduharjo Tergerus Banjir, Warga Usul Pembangunan Talud 90 Meter
BACA JUGA : Sampah Jadi Pemicu Talud Ambrol di Sungai Buntung, Pemkot Soroti Bangunan di Atas Sempadan
“Masih lumayan banyak yang batu kali. Bahkan ada yang belum bertalud. Sekarang kita tingkatkan strukturnya menjadi lebih kuat, dengan pondasi beton ditanam sekitar 1,5 sampai 2 meter di bawah dasar sungai, lalu dindingnya cor beton bertulang,” ungkap Rahmawan dalam keterangannya, Selasa (24/2/2026).
Tahun ini, pembangunan talud baru difokuskan di Sungai Winongo melalui dua paket pekerjaan, yakni di wilayah Bener dan Pakuncen. Di Bener, sebagian besar kawasan belum memiliki talud permanen sehingga pembangunan dilakukan dari awal. Sementara di Pakuncen, talud lama dari pasangan batu kali ditingkatkan menjadi struktur beton bertulang agar lebih kokoh dan tahan terhadap arus deras.
Selain pembangunan baru, Pemkot juga melakukan penanganan insidentil di sejumlah titik rawan seperti Ngampilan, Baciro, dan Gambiran. Kerusakan umumnya dipicu hujan deras yang menyebabkan ambrol atau longsor pada struktur lama.
“Kebanyakan yang rusak itu struktur lama, rata-rata masih batu kali. Kalau sudah lama dan terus tergerus arus, memang rawan,” ujarnya.
BACA JUGA : BBWSSO Siapkan Penanganan Darurat Talud Ambrol di Tegalrejo, Alat Berat Diturunkan Bertahap
BACA JUGA : Talud Sungai Buntung Ambrol, Wali Kota Hasto Pastikan Perbaikan Dianggarkan Tahun Ini
Tak hanya itu, pemeliharaan rutin juga dilakukan di tiga sungai besar yang melintasi Kota Yogyakarta, yakni Sungai Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gajah Wong.
Rahmawan menyebutkan pihaknya tengah menindaklanjuti beberapa titik longsor akibat intensitas hujan tinggi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: