MBG Selama Ramadan Berpotensi Tumpang Tindih, Akademisi Usulkan Realokasi Anggaran
Menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disiapkan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Caturtunggal, Kabupaten Sleman, DIY, saat hari kelima, Jumat (17/1/2025). --Foto: Anam AK/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id - Kebijakan dan program pemerintah dinilai perlu mendapatkan monitoring dan evaluasi berkala agar tujuan awalnya tercapai maksimal. Hal itu juga berlaku pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama terkait rencana pelaksanaannya selama bulan Ramadan.
Dosen Administrasi Publik Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) Yogyakarta, Gerry Katon Mahendra, menilai pelaksanaan MBG saat Ramadan perlu dikaji secara komprehensif agar tetap relevan dan tepat sasaran.
Menurutnya, pola konsumsi masyarakat selama Ramadan berbeda dengan bulan biasa. Umat Muslim makan saat sahur sebelum subuh, berpuasa sepanjang hari, dan berbuka saat maghrib.
“Apabila tidak dikalkulasi dengan baik, dikhawatirkan program MBG selama Ramadan menjadi tidak optimal dan berdampak pada penyerapan anggaran yang tidak tepat sasaran,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (18/2/2026).
BACA JUGA : UGM Sarankan Gunakan Istilah Pangan Olahan, Bukan UPF Dalam Kebijakan MBG
BACA JUGA : MBG Ramadan Sleman, Menu Kering dan Evaluasi Gizi Diperketat
Secara teknis, kata Gerry, distribusi menu matang bisa dilakukan menjelang sahur atau berbuka puasa. Namun, skema tersebut berpotensi menimbulkan persoalan kualitas makanan, logistik, hingga peningkatan anggaran.
“Hal tersebut secara teknis memungkinkan, namun akan memberikan dampak signifikan terhadap jaminan kualitas makanan, penyediaan logistik, dan anggaran yang meningkat. Ini tentu berpotensi menimbulkan inefisiensi,” katanya.
Sebaliknya, apabila diganti dengan menu kering kemasan yang lebih tahan lama, dikhawatirkan esensi pemenuhan gizi tidak maksimal. Dia menekankan bahwa pemenuhan gizi idealnya berbasis bahan segar (real food) yang dimasak sesuai waktu konsumsi penerima manfaat.
Gerry juga menyoroti kuatnya tradisi masyarakat selama Ramadan, seperti buka puasa bersama, berbagi takjil, dan bantuan bahan makanan melalui masjid maupun organisasi sosial. Aktivitas tersebut dinilai relatif cepat dan tepat sasaran.
BACA JUGA : GAPEMBI DIY Siap Perkuat Rantai Pasok MBG Ramadan
BACA JUGA : Soroti Program MBG dan P3K SPPG, DPRD DIY Ingatkan Guru Juga Harus Sejahtera
“Aktivasi program MBG selama Ramadan justru memunculkan kekhawatiran menciptakan program yang tumpang tindih,” jelasnya.
Sebagai alternatif, Gerry mengusulkan realokasi sementara anggaran MBG selama Ramadan untuk penguatan sektor lain yang dinilai lebih mendesak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: