570 Lulusan Dikukuhkan, Rektor Tegaskan UIN Sunan Kalijaga sebagai Kampus Berdampak

570 Lulusan Dikukuhkan, Rektor Tegaskan UIN Sunan Kalijaga sebagai Kampus Berdampak

Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan berfoto bersama para wisudawan terbaik tercepat Periode II Tahun Akademik 2025/2026 usai Sidang Senat Terbuka di Gedung Multipurpose, Rabu (11/2/2026).--Foto: Humas UIN

YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Di tengah disrupsi teknologi, krisis kemanusiaan, dan perubahan sosial global yang kian kompleks, perguruan tinggi dituntut tidak sekadar meluluskan sarjana, tetapi menghadirkan lulusan yang memberi dampak nyata. 

Pesan itu mengemuka dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Periode II Tahun Akademik 2025/2026 UIN Sunan Kalijaga, Rabu (11/2/2026), di Gedung Multipurpose kampus setempat.

Sebanyak 570 wisudawan dikukuhkan dalam sidang yang dibuka Ketua Senat Universitas, Prof. Dr. Kamsi. 

Rinciannya, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan menjadi penyumbang terbanyak dengan 213 lulusan (97 S1, 113 S2, dan 3 S3). 

Disusul Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam 182 lulusan (123 S1 dan 59 S2), Fakultas Adab dan Ilmu Budaya 69 lulusan (58 S1 dan 11 S2), Fakultas Sains dan Teknologi 57 lulusan (49 S1 dan 8 S2), serta Pascasarjana 49 lulusan yang terdiri atas 18 magister dan 31 doktor.

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan akademik, melainkan penanda tanggung jawab intelektual yang lebih besar di tengah masyarakat.

BACA JUGA : Ratusan Wisudawan UNY Raih Cumlaude, 29 Lulusan Sabet Summa Cumlaude

BACA JUGA : Mahasiswa FIKK UNY Raih Beasiswa Djarum Lewat Prestasi Debat

“Wisuda bukan sekadar seremoni akademik, melainkan penanda ujung dari proses panjang yang ditempuh dengan disiplin dan dedikasi. Di titik inilah saudara dinilai layak menyandang gelar kesarjanaan yang membawa otoritas intelektual sekaligus tanggung jawab moral,” katanya dalam pidatonya.

Menurut dia, UIN Sunan Kalijaga memiliki posisi epistemik yang strategis melalui paradigma integrasi-interkoneksi. 

Paradigma ini menyatukan ilmu keagamaan dengan ilmu sosial-humaniora, sains, dan teknologi dalam satu kerangka utuh. 

Ilmu keislaman tidak berdiri terpisah, melainkan menjadi landasan filosofis dan etik bagi setiap proses keilmuan.

“Oleh karena itu, Anda lulus dengan predikat kesarjanaan plus, karena tidak saja memiliki kompetensi keilmuan masing-masing, tetapi juga dibekali dengan semangat keislaman, spiritualitas, dan komitmen pengabdian bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban dunia,” ucapnya. 

Noorhaidi menekankan, ilmu tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan teknis. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: