Magang di KBRI Astana, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Tembus Diplomasi Global

Magang di KBRI Astana, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Tembus Diplomasi Global

Julia Syifa Az-Zahra saat tampil membawakan Tari Persembahan Melayu dalam Resepsi Diplomatik KBRI Astana, Kazakhstan, sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia.--Foto: Humas UIN

SLEMAN, diswayjogja.id - Kiprah mahasiswa Indonesia di panggung internasional kembali menunjukkan wajah optimistis pendidikan tinggi nasional. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Julia Syifa Az-Zahra, menjalani magang internasional di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Astana, Kazakhstan, dan terlibat langsung dalam praktik diplomasi Indonesia di luar negeri.

Zahra, mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Adab dan Ilmu Budaya angkatan 2022, memulai program magangnya (6/11/2025).   

Selama hampir tiga bulan, ia mengikuti sistem rotasi kerja di empat fungsi utama KBRI Astana, yakni fungsi penerangan, sosial, dan budaya; administrasi; protokol, konsuler, dan pelindungan warga negara Indonesia (WNI); serta fungsi ekonomi, politik, dan digital.

“Selama hampir tiga bulan, saya mengikuti sistem rotasi di empat fungsi utama KBRI Astana. Pola kerja lintas fungsi ini memberi saya gambaran utuh tentang bagaimana diplomasi Indonesia dijalankan dari balik layar,” katanya. 

Melalui pola rotasi tersebut, ia tidak hanya memahami tata kelola administrasi diplomatik, tetapi juga terlibat dalam berbagai agenda strategis kedutaan. 

Ia ambil bagian dalam penyambutan atlet judo Indonesia, menghadiri ajang seni internasional, hingga mendukung kehadiran atlet bulu tangkis nasional di Kazakhstan. 

BACA JUGA : Data Peserta Magang Sleman Masih di Kemenaker

BACA JUGA : Mahasiswa Program Sleman Pintar Kini Wajib Magang 1,5 Tahun, Dorong Lulusan Langsung Siap Kerja

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa diplomasi modern tidak hanya berlangsung dalam forum formal, tetapi juga melalui seni, olahraga, dan komunikasi lintas budaya.

Salah satu momen paling berkesan baginya adalah saat dipercaya tampil dalam Resepsi Diplomatik KBRI Astana. 

Dalam acara resmi yang dihadiri tamu internasional tersebut, ia membawakan Tari Persembahan Melayu dari Sumatera sebagai representasi diplomasi budaya Indonesia. Padahal, ia tidak memiliki latar belakang sebagai penari.

Kepercayaan itu dijawabnya dengan latihan intensif selama beberapa pekan. 

Baginya, pengalaman tersebut menjadi ruang pembelajaran tentang tanggung jawab membawa identitas budaya bangsa di hadapan komunitas global.

“Melalui berbagai agenda resmi, saya belajar bahwa semangat kebangsaan tetap hidup meski jauh dari Tanah Air,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: