DLH Sleman Terapkan Pemilahan Limbah di SPPG MBG
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Sugeng Riyanto, saat menjelaskan strategi pemilahan dan pengelolaan limbah program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Sleman.--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id – Pemerintah Kabupaten Sleman terus memperkuat sistem pengelolaan sampah dengan menerapkan strategi pemilahan limbah di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah ini dilakukan untuk memastikan pengelolaan limbah berjalan lebih efisien, terstruktur, dan ramah lingkungan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Sugeng Riyanto, menjelaskan bahwa limbah yang dihasilkan dari aktivitas MBG terbagi menjadi dua jenis utama, yakni limbah cair dan limbah padat.
Keduanya membutuhkan penanganan berbeda agar tidak menimbulkan dampak lingkungan.
“Untuk Makan Bergizi Gratis (MBG), limbah yang dihasilkan ada dua jenis, cair dan padat. Untuk limbah padat, langkah pertama adalah pemilahan di masing-masing MBG menjadi organik dan anorganik,” katanya, Kamis (5/2/2026).
Ia menegaskan, pemilahan sejak dari sumber menjadi kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah.
BACA JUGA : Bumkal Sleman Diproyeksikan Suplai Pangan untuk Program MBG
BACA JUGA : Pelatihan Tata Boga Sleman Siapkan Tenaga untuk Program MBG
Dengan pemilahan yang baik, proses pengolahan lanjutan akan lebih mudah, efisien, dan tidak membebani fasilitas pengelolaan sampah di tingkat kabupaten.
Limbah organik yang dihasilkan dari MBG diharapkan dapat ditangani langsung di lokasi SPPG. DLH Sleman mendorong pemanfaatan limbah organik melalui berbagai metode, seperti pengolahan menjadi pakan ternak maupun inovasi budidaya maggot.
Maggot atau larva lalat diketahui memiliki kandungan protein tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi hewan ternak.
“Sampah organik bisa dikelola langsung di MBG, misalnya diolah menjadi pakan ternak atau untuk budidaya maggot. Dengan begitu, limbah tidak menjadi masalah, tapi justru memberi manfaat ekonomi bagi warga,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah, tetapi juga mendorong nilai tambah ekonomi dan kemandirian masyarakat dalam mengelola limbah.
Jika diterapkan secara konsisten, pengolahan limbah organik di tingkat MBG dapat menekan jumlah sampah yang harus dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: