Canting dan Cinta, Kisah Martini Menghidupi Keluarga Lewat Batik Giriloyo

Canting dan Cinta, Kisah Martini Menghidupi Keluarga Lewat Batik Giriloyo

Martini, 65 tahun, sedang membatik tulis di rumahnya, Kampung Batik Giriloyo, Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, Sabtu (3/1/2025)--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id

BANTUL, diswayjogja.id - Di Kampung Batik Giriloyo, Desa Wukirsari, Imogiri, tradisi membatik tidak sekadar menjadi mata pencaharian, tetapi juga warisan keluarga yang terus hidup lintas generasi. 

Martini, salah satu pembatik senior di kampung itu, menyebut kebiasaan membatik telah mengakar sejak lama dalam keluarganya dan kini ikut dikerjakan oleh anak bungsunya.

“Yang bungsu kadang membantu membatik juga. Iya, dari dulu sudah diwariskan, karena sudah menjadi kebiasaan, sudah cinta sama batik,” katanya, Sabtu (3/1/2025). 

Ia bercerita, sejak sebelum tahun 2000-an, hasil batik dari para perajin di Giriloyo rutin dikirim ke sejumlah toko di Yogyakarta. 

Alur pemasaran itu berjalan stabil, meski proses pengerjaan batik tulis tetap membutuhkan ketekunan dan waktu panjang. 

Untuk satu lembar kain, ia bisa menghabiskan waktu sekitar satu bulan, bahkan lebih lama jika motifnya halus.

BACA JUGA : 40 Tahun Menjaga Batik Giriloyo, Martini Hidupi Keluarga dari Canting Rumahan

BACA JUGA : Batik Metaflora Pekalongan, Dari Canting ke AI: Success Story UMKM Binaan BI Tegal

Dalam kondisi tertentu, pekerjaan tetap diselesaikan secara perlahan, mengikuti ritme tangan dan ketelitian proses. 

“Pernah, tapi tetap dikerjakan pelan-pelan. Sekitar satu bulan,” ucapnya.

Harga batik tulis halus bisa mencapai Rp1,5 juta per lembar. Namun pola pembayarannya umumnya dilakukan bertahap, mengikuti progres pengerjaan.

Pada tahap awal, perajin biasanya menerima sebagian upah lebih dulu. 

“Kalau yang halus bisa sampai Rp1.500.000. Setiap tahap pengerjaan biasanya dibayar sebagian, misalnya Rp100.000–Rp150.000 dulu,” tuturnya.

Proses belajar dilakukan secara fleksibel, menyesuaikan waktu sekolah maupun pekerjaan. “Karena mereka sendiri yang ingin belajar. Kami tidak memaksa. Mereka juga tetap sekolah dan beribadah, jadi waktunya diatur agar tidak mengganggu kegiatan lain,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: