Dinkes Sleman Pastikan Gejala Keracunan MBG Ringan, Epidemiologi Ditelusuri Menyeluruh

Dinkes Sleman Pastikan Gejala Keracunan MBG Ringan, Epidemiologi Ditelusuri Menyeluruh

Petugas Dinas Kesehatan Sleman memeriksa distribusi makanan program Makan Bergizi Gratis usai kasus dugaan keracunan di Kapanewon Mlati.--Foto: DOK (diswayjogja.id)

SLEMAN, diswayjogja.id - Dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Mlati, Sleman, ditangani secara komprehensif. 

Dinas Kesehatan Sleman memastikan gejala yang dialami para siswa dan guru bersifat ringan, khas keracunan makanan, seperti mual, muntah, dan pusing.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Cahya Purnama, menyampaikan tidak ada korban yang harus menjalani rawat inap. 

“Semua kasus yang muncul umumnya ringan. Sebagian cukup dengan rawat jalan, dan sisanya langsung ditangani puskesmas yang mendatangi sekolah,” katanya, Jumat (19/9/2025).

BACA JUGA : Dana Buffer Dinkes DIY Pastikan Alat Bantu Gratis untuk Penyandang Disabilitas

BACA JUGA : Januari Hingga Agustus 2025, Dinkes Brebes Catat Angka Kematian Ibu 20 dan Kematian Bayi 168 Kasus

Meski begitu, pihaknya tetap melakukan penyelidikan epidemiologi menyeluruh. 

“Langkah awal yang kami lakukan adalah evakuasi dan penanganan awal korban oleh tim pelayanan kesehatan,” ucapnya.

Ia menuturkan, tahapan berikutnya adalah pengambilan sampel makanan dan air, sekaligus pemeriksaan kondisi lingkungan sekolah. 

“Hal ini penting untuk memastikan apakah sumber masalah berasal dari makanan, minuman, atau faktor lingkungan,” tuturnya.

Selain itu, tim juga melakukan penelusuran distribusi makanan di sekolah. 

“Kami memetakan makanan MBG tersebut dikonsumsi di kelas mana saja. Tujuannya agar bila ada kasus tambahan, dapat segera dikendalikan dari batch tertentu,” ujarnya.

Ia menambahkan, rekomendasi intervensi juga akan disiapkan berdasarkan hasil investigasi. 

“Misalnya jika ditemukan air terkontaminasi Ecoli, maka harus segera dilakukan klorinasi agar aman. Dengan begitu, kejadian serupa bisa dicegah,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: