Dosen Gizi Unisa Yogyakarta Ungkap Bahaya dan Cara Kenali Beras Oplosan

Dosen Gizi Unisa Yogyakarta Ungkap Bahaya dan Cara Kenali Beras Oplosan

Dosen Gizi Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta Faurina Risca Fauzia, mengungkapkan sejumlah bahaya mengonsumi beras oplosan yang saat ini marak beredar di tengah masyarakat Indonesia belakangan ini. --Foto: Anam AK/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id - Dosen Gizi Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Faurina Risca Fauzia, mengungkapkan sejumlah bahaya mengonsumi beras oplosan yang saat ini marak beredar di tengah masyarakat Indonesia belakangan ini. 

Faurina menyebutkan selain bahaya kesehatan langsung akibat bahan kimia, konsumsi beras yang dicampur dan dimanipulasi juga memiliki dampak gizi yang perlu diperhatikan.

Faurina mengatakan pencampuran beras premium dengan beras berkualitas rendah dapat secara signifikan menurunkan nilai gizi nasi yang dikonsumsi, misalnya mengurangi kandungan vitamin B1 yang penting. 

“Meskipun dampak ini mungkin tidak menyebabkan efek fatal secara langsung, konsumsi rutin dalam jangka panjang dapat menyebabkan defisit gizi kumulatif yang merugikan kesehatan masyarakat,” kata Faurina dalam keterangannya di Unisa Yogyakata, Rabu (6/8/2025). 

BACA JUGA :  Perkuat Ekosistem Halal Nasional, Halal Center Unisa Yogyakarta Luncurkan LP3H

BACA JUGA : Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unisa Yogyakarta Serukan Penolakan Judi Online

Berdasarkan riset studi menunjukkan bahwa adulterasi pangan atau  tindakan pencampuran dapat berkontribusi pada peningkatan gula darah konsumen, yang berpotensi menyebabkan diabetes, penambahan berat badan di area perut, obesitas, dan peningkatan kadar lipid darah yang dapat memicu tekanan darah tinggi. 

Praktik adulterasi atau oplosan pada dasarnya mengubah sifat alami makanan, sehingga memperburuk risiko kesehatan yang mungkin sudah ada dari konsumsi makanan berkualitas rendah atau junk food.

“Akumulasi ini akan memperberat kerja sistem detoksifikasi organ vital seperti hati dan ginjal, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan permanen pada organ-organ tersebut,” ujarnya.

Faurina menjelaskan salah satu kontaminan alami yang paling signifikan dalam beras adalah arsenik. Beras (Oryza sativa L.) memiliki kemampuan luar biasa untuk mengakumulasi arsenik, dengan konsentrasi yang bisa mencapai sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan sereal lain seperti gandum. 

BACA JUGA :  Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNISA Ajak Pelajar se-DIY Lawan Judi Online Demi Generasi Emas

BACA JUGA : Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unisa Yogyakarta Serukan Penolakan Judi Online

Hal ini diperparah oleh cara penanaman padi yang umumnya terendam air, yang mendukung kelarutan arsenik dalam tanah dan penyerapan ke dalam tanaman. 

“Paparan arsenik, bahkan pada kadar rendah, dapat menyebabkan mual, muntah, diare, detak jantung tidak teratur, dan kerusakan pembuluh darah. Pada kadar yang tinggi dan paparan jangka panjang, zat ini dapat meningkatkan risiko keracunan arsenik, diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan kulit, kerusakan saraf, penyakit jantung, serta berbagai jenis kanker seperti kanker kulit, paru-paru, dan kandung kemih,” jelas Faurina.

Cara Mengenali Beras Oplosan

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: