Menelusuri Permata Pariwisata Jejak Keindahan dan Sejarah di Cangkringan

Menelusuri Permata Pariwisata Jejak Keindahan dan Sejarah di Cangkringan

The Lost World Castle--

Waktu yang paling disarankan untuk berkunjung adalah saat matahari mulai condong ke barat atau sore hari. Pada saat itu, cahaya matahari yang kuning keemasan menyinari sela-sela batu, menciptakan bayangan yang dramatis dan suasana yang terasa magis. Kombinasi antara struktur batu purba buatan ini dengan latar langit biru dan puncak Gunung Merapi yang gagah menghasilkan komposisi visual yang luar biasa indah.

Informasi Pengunjung:

Biaya Masuk: Rp 15.000 per orang.

Tips: Gunakan pakaian dengan warna yang kontras dengan warna batu abu-abu agar hasil foto Anda lebih menonjol.

Museum Petilasan Mbah Maridjan

Wisata di Cangkringan tidak melulu tentang kesenangan, tetapi juga tentang penghormatan. Museum Petilasan Mbah Maridjan adalah bekas tempat tinggal sang juru kunci Merapi yang legendaris. Di lokasi ini, pengunjung bisa melihat sisa-sisa keganasan awan panas atau wedhus gembel yang menghanguskan seluruh isi rumah pada tahun 2010.

Berbagai benda yang membeku dalam waktu dipajang secara sederhana, mulai dari kerangka sepeda motor, peralatan dapur yang meleleh, hingga sisa-sisa gamelan yang rusak. Tempat ini memberikan pelajaran berharga tentang kesetiaan terhadap tugas dan kekuatan alam yang tak terbendung. Suasana di petilasan ini cenderung lebih tenang dan khidmat, mengajak setiap pengunjung untuk sejenak mengheningkan cipta bagi mereka yang menjadi korban dalam bencana tersebut.

Informasi Pengunjung:

Jam Operasional: 07.00 hingga 17.00 WIB.

Akses: Biasanya dikunjungi menggunakan mobil jip sebagai bagian dari paket wisata sejarah Merapi.

Museum Mini Sisa Hartaku

Tidak jauh dari petilasan Mbah Maridjan, terdapat Museum Mini Sisa Hartaku. Bangunan ini merupakan rumah asli milik seorang warga bernama Bapak Kimin yang dibiarkan dalam kondisi hancur akibat terjangan erupsi. Pemiliknya memutuskan untuk tidak membangun kembali rumah tersebut menjadi hunian, melainkan menjadikannya museum kecil agar masyarakat bisa belajar tentang dahsyatnya bencana alam.

Di dalam museum ini, Anda bisa melihat jam dinding yang jarumnya berhenti tepat saat awan panas menerjang, kerangka hewan ternak yang hanya tersisa tulang-belulangnya, serta berbagai perabot rumah tangga yang terdistorsi akibat panas ekstrem. Keaslian tempat ini tanpa adanya pemugaran berlebihan membuat emosi pengunjung tersentuh. Ini adalah destinasi edukatif yang sangat penting bagi pelajar untuk memahami mitigasi bencana dan sejarah geologi Merapi.

Informasi Pengunjung:

Jam Operasional: 08.00 hingga 18.00 WIB.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: