Harga Jagung Tembus Rp7.300 per Kilogram Kering , Petani Sumringah
Panen tahun 2026 untuk tanaman jagung menggembirakan, selain jumlahnya besar harga juga cukup tinggi di petani sampai 7300/kilogram--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id
BANTUL, diswayjogja.id – Musim kemarau tahun ini membawa berkah bagi petani yang menanam jagung. Selain cuaca yang mendukung proses pengeringan hasil panen, harga jual jagung juga mengalami kenaikan cukup signifikan. Petani kini bisa menjual jagung kering hingga Rp7.300 per kilogram.
Kondisi tersebut disambut gembira petani karena memberikan keuntungan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, harga jagung kering hanya berkisar Rp5.500 per kilogram. Bahkan, akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung proses penjemuran, sebagian petani terpaksa menjual jagung dalam kondisi basah dengan harga jauh lebih rendah.
Sekretaris Gapoktan Sumber Mulyo, Bambanglipuro, Bantul, Suwanto, mengatakan sebagian besar petani di wilayahnya tetap menanam jagung meskipun musim kemarau berlangsung cukup panjang. Menurutnya, kondisi cuaca tahun ini justru membantu petani dalam proses pematangan dan pengeringan hasil panen.
"Alhamdulillah, kemarau tahun ini membawa berkah bagi petani. Kami bisa menjemur jagung sesuai harapan dan tidak terkendala hujan seperti tahun sebelumnya," ungkap Suwanto saat ditemui, Rabu (4/11/2026).
BACA JUGA : Panen Jagung di Penghujung Musim Kemarau, Petani Kedon, Bantul Raup Hasil Sesuai Harapan
BACA JUGA : Hujan Deras Guyur Lereng Merapi, Petani Kepuharjo Kembali Tanam Jagung dan Kacang Tanah
Suwanto menjelaskan, harga jagung saat ini mencapai Rp7.300 per kilogram di tingkat petani. Hasil panen tersebut dijual kepada pengepul. Harga itu dinilai cukup menggembirakan karena mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu yang hanya sekitar Rp5.500 per kilogram.
Menurut Suwanto, persoalan cuaca pada musim panen sebelumnya sempat membuat petani mengalami kerugian dari sisi harga. Ketika hujan datang lebih awal, jagung yang belum sepenuhnya kering sulit dijemur. Petani akhirnya memilih menjual hasil panen dalam kondisi basah dengan harga sekitar Rp1.800 per kilogram.
"Tahun kemarin kami kesulitan menjemur. Daripada disimpan terlalu lama dan berisiko rusak, akhirnya jagung dijual gelondongan atau basah. Harganya tentu jauh berbeda dengan jagung kering," jelasnya.
Tahun ini, kondisi tersebut tidak terulang. Petani bisa memaksimalkan proses penjemuran sehingga jagung yang dijual memiliki kualitas lebih baik. Bahkan, dari sisi produksi, Suwanto memperkirakan terjadi peningkatan sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
BACA JUGA : Bantul Pacu Pendapatan Petani Lewat Gabah dan Jagung
BACA JUGA : Briket Tongkol Jagung, Solusi Energi Ramah Lingkungan dan Penghasilan Baru di Dusun Kalimundu Bantul
Peningkatan produksi tersebut dipengaruhi kondisi tanaman yang bisa tumbuh dan matang lebih optimal. Cuaca yang relatif mendukung juga memberikan kesempatan kepada petani untuk mengeringkan hasil panen sebelum dijual.
Meski demikian, musim kemarau tetap menghadirkan tantangan tersendiri. Petani harus bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan air tanaman dengan memompa air ke lahan pertanian.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: