Museum Merapi, Ruang Belajar dari Alam, Sejarah, hingga Kebudayaan

Museum Merapi, Ruang Belajar dari Alam, Sejarah, hingga Kebudayaan

Museum Merapi, Ruang Belajar dari Alam, Sejarah, hingga Kebudayaan--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id – Gunung Merapi bukan sekadar bentang alam yang menyimpan potensi sekaligus ancaman bencana. Kawasan ini juga menjadi ruang belajar tentang sejarah, kebudayaan, lingkungan, hingga pentingnya menjaga keseimbangan alam. Perspektif tersebut dihadirkan melalui pameran temporer tahunan di Museum Gunungapi Merapi, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, Selasa (20/10/2026).

Pameran yang diselenggarakan UPTD Museum Gunungapi Merapi di bawah naungan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman ini menjadi salah satu upaya memperluas pemahaman masyarakat terhadap Merapi melalui pendekatan edukasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di kawasan Merapi, pengetahuan tentang alam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya. Aktivitas vulkanik, ketersediaan air, sejarah letusan, serta tradisi warga menjadi bagian dari satu kesatuan yang menarik untuk dipelajari.

Museum pun memiliki peran lebih dari sekadar tempat menyimpan koleksi. Melalui pameran, pengunjung diajak memahami hubungan antara manusia, alam, dan kebudayaan yang terbentuk selama bertahun-tahun di kawasan lereng Merapi.

BACA JUGA:Destinasi Wisata Edukasi Taman Aromatik dan Museum Minyak Atsiri Paling Hits di Karanganyar

BACA JUGA:Wisata Edukasi Sejarah Bumi di Museum Geologi Bandung jadi Destinasi Favorit Liburan Keluarga

Kepala UPTD Museum Gunungapi Merapi, Imam Muslikh Mahmudi, menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, terutama sumber daya air yang menopang kehidupan masyarakat.

“Kelestarian alam dan ketersediaan air bersih di sekitar kawasan lereng Merapi merupakan tanggung jawab bersama yang harus kita jaga secara berkelanjutan,” ujar Imam.

Pesan tersebut menegaskan bahwa belajar tentang Merapi tidak berhenti pada pengetahuan mengenai gunung api dan potensi bencananya. Kesadaran terhadap lingkungan, termasuk menjaga sumber air dan kelestarian vegetasi, juga menjadi bagian penting dalam memahami kawasan tersebut.

Museum sebagai Ruang Belajar Interaktif

Kepala Bidang Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Esti Listyowati, mengatakan museum perlu hadir sebagai ruang pembelajaran yang mampu menjangkau masyarakat, khususnya generasi muda.

BACA JUGA:Promo Museum MACAN Jakarta 2026, Harga Tiket Berdua Mulai Rp 159 Ribu, Saja Loh

BACA JUGA:Tak Sekadar Wisata Sejarah, Museum Soeharto Kini Jadi Favorit Pelajar Belajar Kebangsaan

“Pameran temporer ini bukan sekadar tempat pajangan benda-benda koleksi, melainkan juga berfungsi sebagai sarana edukasi publik, media interpretasi budaya, serta wadah pelestarian nilai-nilai sejarah bagi generasi muda,” tegas Esti.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait