Tempe Bungkus Daun Jati, Bungkus Tradisional Rasa Istimewa
Di tengah maraknya tempe yang dikemas menggunakan plastik, tempe bungkus daun jati kini menjadi kuliner tradisional yang semakin langka dijumpai.--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id
GUNUNGKIDUL, diswayjogja.id – Di tengah maraknya tempe yang dikemas menggunakan plastik, tempe bungkus daun jati kini menjadi kuliner tradisional yang semakin langka dijumpai. Padahal, bagi para penikmatnya, tempe yang dibungkus daun jati memiliki cita rasa dan aroma khas yang sulit ditandingi kemasan lain.
Keistimewaan tersebut terus dipertahankan oleh 10 ibu rumah tangga di Kampung Zakat Balong, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Mereka memproduksi tempe bungkus daun jati sebagai upaya melestarikan cara pengolahan tradisional sekaligus meningkatkan perekonomian keluarga.
Salah seorang pelanggan, Bambang, mengatakan tempe bungkus daun jati memiliki rasa yang lebih gurih dan aroma yang lebih harum dibandingkan tempe yang dibungkus daun pisang maupun plastik.
"Tempe daun jati lebih harum, lebih gurih, dan rasanya lebih sedap. Kalau digoreng aromanya juga lebih wangi," ujarnya.
BACA JUGA : Harga Tetap, Tempe Menyusut; Dilema Perajin Bertahan di Tengah Kedelai yang Kian Mahal
BACA JUGA : Simak Resep Tempe Katsu Keju dengan Saus Gochujang yang Bikin Ketagihan
Pendapat serupa disampaikan pelanggan lainnya, Adi. Menurutnya, aroma alami daun jati memberikan cita rasa khas yang membuat tempe lebih nikmat disantap.
Selain cita rasanya yang istimewa, proses fermentasi tempe bungkus daun jati juga relatif lebih cepat. Dengan menggunakan laru, yakni ragi tradisional yang berasal dari hasil fermentasi tempe sebelumnya, tempe sudah matang dalam waktu sekitar dua hingga tiga hari. Penggunaan laru merupakan cara tradisional yang telah lama dikenal para perajin tempe sebelum ragi komersial banyak digunakan.
Kemasan daun jati juga memberikan nilai tambah karena tampil lebih menarik sekaligus ramah lingkungan. Tempe ini dijual dengan harga Rp8.000 per 10 bungkus, sehingga tetap terjangkau bagi masyarakat.
Koordinator pemberdayaan kelompok ibu-ibu Kampung Zakat Balong, Ratno Sungkowo, mengatakan produksi tempe daun jati bukan sekadar mempertahankan kuliner tradisional, tetapi juga menjadi upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ia turut mendampingi sekaligus membantu memasarkan hasil produksi para ibu ke berbagai daerah.
BACA JUGA : Wisata Kuliner Sidoarjo Berikut Tempat Makan Legendaris untuk Pecinta Makanan Nusantara
BACA JUGA : Kuliner Lontong Kikil Paling Enak di Surabaya, Daging Kikil Lembut dengan Kuah Rempah yang Nagih!
Menurut Ratno, tempe bungkus daun jati dari Balong pernah menerima pesanan dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, hingga Kota Yogyakarta. Hal itu membuktikan bahwa produk tradisional masih memiliki pasar yang baik apabila kualitas dan kemasannya terus dijaga.
"Harapan kami, usaha ini dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu di Kampung Zakat Balong. Dengan kemasan yang menarik dan cita rasa yang khas, kami ingin tempe daun jati semakin dikenal sekaligus menjadi sumber penghasilan keluarga," kata Ratno.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: