Hari Lahir Pancasila, Garuda, dan Sosok Kontroversial di Baliknya
Istana Kesultanan Kadriyah di Pontianak, asal Sultan Hamid II, tempat beragam dokumen serta gambar rancangan awal Lambang Garuda Pancasila tersimpan. diswayjogja,id--wikipedia
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Fondasi Perdamaian Dunia”. Tema yang ditetapkan BPIP ini mengingatkan kembali bahwa Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan juga perekat keberagaman bangsa Indonesia.
Namun di balik peringatan tersebut, ada satu fakta sejarah yang jarang diketahui publik. Lambang Garuda Pancasila yang kini selalu hadir dalam setiap upacara kenegaraan ternyata dirancang oleh sosok yang hingga kini masih menjadi tokoh kontroversial dalam sejarah Indonesia, yakni Sultan Hamid II.
Nama Sultan Hamid II mungkin tidak sepopuler Soekarno, Mohammad Hatta, atau Mohammad Yamin. Padahal, goresan tangannya menjadi dasar lahirnya Garuda Pancasila yang kini dikenal seluruh rakyat Indonesia. Pada 1950, ketika Republik Indonesia Serikat (RIS) membutuhkan lambang negara, pemerintah membentuk Panitia Lencana Negara. Sultan Hamid II yang saat itu menjabat Menteri Negara Zonder Portofolio dipercaya memimpin proses perancangannya.
Dari berbagai usulan yang masuk, rancangan Sultan Hamid II akhirnya dipilih. Desain tersebut kemudian disempurnakan bersama Presiden Soekarno dan sejumlah tokoh lain hingga melahirkan Garuda Pancasila yang dikenal saat ini. Lambang itu resmi digunakan pada 11 Februari 1950 dan diperkenalkan kepada publik beberapa hari kemudian.
BACA JUGA : PWI DIY Dilantik di Kepatihan, Sri Sultan Minta Kajian Akademik Grha Pers Pancasila
BACA JUGA : Jejak Bung Karno di Blitar, Kader PDI Perjuangan Jogja Dalami Nilai Pancasila
Namun sejarah Sultan Hamid II tidak berhenti pada kisah penciptaan lambang negara. Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam Republik Indonesia Serikat, sebuah bentuk negara federal yang lahir setelah Konferensi Meja Bundar. RIS sendiri merupakan kompromi politik pasca pengakuan kedaulatan oleh Belanda pada akhir 1949. Dalam struktur federal tersebut, Sultan Hamid II menjadi salah satu perwakilan negara bagian dan dikenal memiliki hubungan dekat dengan Belanda karena latar belakang pendidikan serta karier militernya di KNIL.
Di sinilah kontroversi itu bermula. Di satu sisi, Sultan Hamid II dikenang sebagai perancang lambang negara yang memvisualisasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam sosok Garuda. Di sisi lain, namanya kemudian terseret dalam kasus Pemberontakan APRA yang dipimpin Raymond Westerling pada 1950. Keterlibatannya dalam peristiwa tersebut membuat jasa besarnya terhadap lahirnya Garuda Pancasila lama tenggelam dari narasi sejarah resmi. Bahkan selama bertahun-tahun, banyak masyarakat yang mengenal Garuda Pancasila tanpa mengetahui siapa perancangnya.
Ironisnya, simbol yang kini menjadi lambang persatuan bangsa justru lahir dari tangan seorang tokoh yang hidup di tengah pertarungan ideologi dan tarik-menarik kepentingan politik pada masa awal kemerdekaan. Sultan Hamid II berada di persimpangan sejarah: dikenang karena karya besarnya, tetapi juga dibayangi kontroversi politik yang membuat namanya terus diperdebatkan hingga sekarang.
Saat Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila 2026 dengan tema persatuan dan perdamaian dunia, kisah Sultan Hamid II menjadi pengingat bahwa sejarah bangsa tidak selalu hitam dan putih. Di balik simbol Garuda yang gagah membentangkan sayapnya, tersimpan cerita tentang seorang perancang yang memberikan identitas bagi negara, sekaligus menjadi salah satu tokoh paling kontroversial dalam perjalanan sejarah Indonesia.
BACA JUGA : Wali Kota Hasto Berikan Penghargaan Lencana kepada Anggota Gerakan Pramuka, Ingatkan Insan Pancasila
BACA JUGA : Hari Kesaktian Pancasila 2025 di Bantul, Bupati Ajak Generasi Muda Jadikan Pancasila Pedoman Hidup
Garuda Pancasila akhirnya menjadi bukti bahwa karya dapat melampaui riuhnya perdebatan politik. Lambang itu tetap berdiri di dada bangsa Indonesia, menyatukan jutaan rakyat dari berbagai suku, agama, dan budaya, jauh melampaui sosok manusia yang pertama kali menggambarnya di atas kertas lebih dari tujuh dekade silam.
Fakta sejarah mengenai Sultan Hamid II sebagai perancang Garuda Pancasila dan perannya dalam RIS didukung oleh sejumlah catatan sejarah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: