Harga Plastik Meledak, Warga Bantul Dipaksa Ubah Cara Belanja
Kantong plastik belanjaan--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id
BACA JUGA : Yogyakarta Batasi Penggunaan Plastik Sekali Pakai, Warga Diminta Gunakan Wadah Ramah Lingkungan
BACA JUGA : Hujan Lebat dan Angin Kencang Landa DIY, Pohon Tumbang hingga Rumah Rusak di Bantul dan Kota Jogja
Tidak hanya berdampak pada kebiasaan belanja, lonjakan harga plastik juga berpotensi mendorong kenaikan harga barang.
Pedagang yang tidak mampu menekan biaya produksi terpaksa menyesuaikan harga jual agar tetap memperoleh keuntungan.
“Kalau kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga barang ikut naik karena biaya kemasan juga meningkat,” tuturnya.
Hingga kini, pemerintah daerah melalui DKUKMPP Bantul masih melakukan pemantauan di lapangan.
Langkah yang diambil masih sebatas memberikan imbauan kepada pelaku usaha agar mencari solusi jangka pendek, seperti mengatur ulang biaya produksi dan mempertimbangkan penggunaan kemasan alternatif.
Beberapa pedagang mulai berinovasi dengan menggunakan bahan lain seperti kertas, kardus, atau tas kain sederhana sebagai pengganti plastik. Namun, tidak semua alternatif tersebut bisa langsung diterapkan karena keterbatasan biaya dan ketersediaan bahan.
BACA JUGA : Sekolah Didorong Jadi Kebun Hidup, Bantul Tanamkan Minat Tani Sejak Dini
BACA JUGA : Korban Belum Ditemukan, Operasi SAR Yunanta Tenggelam di Muara Opak Bantul Resmi Ditutup
Di sisi lain, situasi ini justru membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai.
Selama ini, penggunaan plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar masalah sampah karena sulit terurai dan proses daur ulangnya terbatas.
Ia menilai momentum kenaikan harga ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penggunaan plastik secara bijak.
“Kita memang harus lebih bijak menggunakan plastik, selain harganya mahal, pengolahan sampahnya juga sulit didaur ulang,” ujarnya.
Perubahan pola belanja yang kini mulai terlihat di Bantul menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi dapat memicu transformasi perilaku masyarakat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




