Konflik Iran vs AS-Israel, Guru Besar UGM Nilai Indonesia Sulit Jadi Penengah

Konflik Iran vs AS-Israel, Guru Besar UGM Nilai Indonesia Sulit Jadi Penengah

Guru Besar Geopolitik Timur Tengah UGM, Siti Muti’ah Setyawati, dalam Pojok Bulaksumur di UGM, Kamis (5/3/2026) menilai Iran menghadapi konflik Timur Tengah tanpa dukungan kuat dari negara lain, Ia juga menyoroti dampak konflik bagi Indonesia.--FOTO: Anam AK/diswayjogja.id

BACA JUGA : BEM KM UGM Kritik Pidato Presiden Prabowo di PBB, Sebut Bicara Perdamaian Tapi Rakyat Ditindas

BACA JUGA : Iklan Prabowo di Bioskop Tuai Pro-Kontra, Akademisi UGM: Publik Anggap Pola Orde Baru

Ia menilai kondisi tersebut berpotensi mengurangi aliran remitansi ke Indonesia yang selama ini cukup besar.

“Kalau mereka bermasalah dan pekerjaannya terhenti, tentu akan menjadi beban juga bagi Indonesia,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga menyoroti wacana impor minyak dari Amerika Serikat yang dinilai kurang efisien dari sisi jarak dan biaya.

“Kalau mendatangkan minyak dari Amerika jaraknya sangat jauh. Perjalanan saja bisa sampai 24 jam, sementara ke Timur Tengah sekitar 10 jam,” tandasnya.

Karena itu, ia menilai perlu kajian lebih mendalam terkait jenis minyak yang dibutuhkan Indonesia serta kesiapan pasokan dari Amerika Serikat.

BACA JUGA : MPBI DIY Sebut Operasi Militer AS di Venezuela Langgar Hukum Internasional

BACA JUGA : Bandara YIA Jadi Gerbang Internasional DIY, Imigrasi Yogyakarta Catat Lonjakan WNA 2025

Diketahui, Amerika Serikat dan Iran sudah sejak lama bermusuhan, kurang lebih selama 7 dekade. 

Menurut catatan Kedutaan Besar Iran di Indonesia, permusuhan Amerika terhadap Iran bukanlah hal baru dan berakar dalam tujuh dekade sejarah Iran.

Intervensi, agresi, dan permusuhan Amerika terhadap Iran dimulai dari kudeta 19 Agustus 1953 (28 Mordad 1332) yang menggulingkan pemerintahan Dr. Mohammad Mossadegh, Perdana Menteri Iran saat itu, dan berlanjut dengan tindakan-tindakan lainnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: