Krisis Stok Darah, Safari Tarawih Sleman Dorong Aksi Donor Massal
Bupati Sleman Harda Kiswaya mendonorkan darah usai Safari Tarawih di Masjid Markazul Islam, Ponpes Hidayatullah Yogyakarta, Ngaglik, Sleman, Jumat malam.--Foto: Humas Pemkab Sleman
BACA JUGA : Wajah Baru Wisata Konservasi Solo Safari 2026 Penuh Adrenaline dan Edukasi, Berikut Informasi Selengkapnya
BACA JUGA : PMI Sleman Salurkan 39.210 Kantong Darah, Layani 150 Ribu Warga Sepanjang 2025
Ia menilai, langkah kecil yang dilakukan secara bersama dapat memberi dampak besar bagi sesama, terutama bagi pasien yang membutuhkan transfusi darah di berbagai fasilitas kesehatan.
Karena itu, ia berharap kegiatan serupa dapat terus digalakkan, tidak hanya saat Ramadan.
“Semoga dengan adanya ini, bisa menjadi contoh bagi masyarakat untuk turut melakukan aksi serupa guna memenuhi kebutuhan darah yang ada di Kabupaten Sleman,” ucapnya.
Bagi Pemerintah Kabupaten Sleman, Safari Tarawih bukan sekadar agenda simbolik.
Kegiatan ini dimaksudkan sebagai ruang silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat.
Dalam suasana yang lebih cair dan religius, pemerintah dapat menyampaikan program-program pembangunan secara langsung, sekaligus menyerap aspirasi warga.
BACA JUGA : Dugaan Penganiayaan di Wates Kulon Progo, Korban Diborgol dan Berdarah
BACA JUGA : Sepanjang Tahun 2025, Dinkesda Brebes Catat 2.257 Kasus Demam Berdarah 11 Pasien Meninggal
“Melalui Safari Tarawih ini, kami ingin mempererat silaturahmi dan menyampaikan program-program Pemkab Sleman secara langsung kepada masyarakat,” tuturnya.
Selain donor darah, kegiatan tersebut juga diisi dengan penyerahan bantuan dana sebesar Rp 39,5 juta kepada Pondok Pesantren Hidayatullah Yogyakarta.
Bantuan berasal dari berbagai unsur, mulai dari Pemkab Sleman, BAZNAS Sleman, Kemenag Sleman, Kapanewon Ngaglik, Kalurahan Donoharjo, hingga sejumlah lembaga perbankan dan BUMD seperti Bank BPD DIY Cabang Sleman, Bank Sleman, PUDAM Sleman, Bank Sleman Syariah, serta infak jamaah tarawih malam itu.
Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung kegiatan pendidikan dan pengembangan pesantren.
Di tengah tantangan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, kolaborasi multipihak menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan lembaga pendidikan berbasis keagamaan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: