CCTV Ungkap Dua Titik Pembakaran Tenda Polda DIY dalam Kericuhan Massa

CCTV Ungkap Dua Titik Pembakaran Tenda Polda DIY dalam Kericuhan Massa

Arie Perdana berbincang dengan teman-temannya usai menjalani sidang--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id - Sidang terdakwa kasus pembakaran tenda di Polda DIY, Perdana Arie Putra Veriasa, kembali digelar di Pengadilan Negeri Sleman, Selasa (27/1/2026).

Dalam agenda pemeriksaan keterangan terdakwa, Perdana mengungkapkan alasan di balik keterlibatannya dalam aksi yang berujung pada perkara hukum tersebut.

Di hadapan majelis hakim, Perdana mengaku mengikuti aksi sebagai bentuk protes terhadap apa yang ia sebut sebagai kekerasan negara yang tidak pernah dipertanggungjawabkan. 

Ia menyinggung peristiwa meninggalnya seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang dilindas kendaraan rantis milik Brimob dalam sebuah rangkaian aksi sebelumnya.

“Saya muak dan capai dengan kekerasan negara yang tidak pernah dipertanggungjawabkan. Itu yang mendorong saya ikut turun ke jalan,” katanya di ruang sidang.

Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi titik balik yang membuatnya semakin terdorong untuk terlibat dalam gerakan memperjuangkan keadilan dan hak asasi manusia. 

BACA JUGA : Oknum Polisi Diduga Aniaya Perempuan di Sleman, Korban Alami Trauma Psikologis

BACA JUGA : Anak SD dan SMP Sleman Sudah Bisa Coding dan AI

Meski kini berstatus sebagai terdakwa, ia menyatakan tidak ingin berhenti menyuarakan aspirasi masyarakat, selama dilakukan dengan cara yang tidak melanggar hukum.

“Setelah peristiwa ini pun saya tetap ingin ikut aksi-aksi lain. Tapi tentu dengan cara yang baik dan tidak melanggar hukum, demi memperjuangkan hak asasi manusia,” ujarnya.

Namun, ia tak menampik bahwa proses hukum yang dijalaninya membawa dampak besar terhadap kehidupan pribadinya, terutama pendidikan. 

Perdana mengaku sedih karena perkaranya membuat aktivitas perkuliahan terhambat.

“Tentu saya sedih karena kuliah saya jadi terhambat dan tidak bisa ikut memperjuangkan orang lain yang membutuhkan keadilan di negeri ini,” jelasnya. 

Ia mengatakan, awalnya ia membawa pilox untuk keperluan membuat perangkat aksi, berupa tulisan-tulisan di spanduk. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: