Pariwisata Jogja Ditekan Biaya dan Perubahan Wisatawan di 2026

Pariwisata Jogja Ditekan Biaya dan Perubahan Wisatawan di 2026

Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti menyampaikan paparan tantangan pariwisata tahun 2026 dalam Rapat Kerja Daerah II PHRI DIY di Yogyakarta, Rabu (14/1/2026)--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id

Transformasi menjadi sebuah keharusan, khususnya bagi hotel dan restoran di DIY. 

"Hotel dan restoran tidak lagi cukup hanya menjual akomodasi dan menu, tetapi harus menghadirkan nilai tambah melalui cerita, kualitas layanan, serta pengalaman khas Jogja yang autentik dan personal,” tuturnya.  

Ia mengatakan transformasi digital merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

Tantangannya adalah memastikan pelaku usaha pariwisata tetap adaptif terhadap teknologi tanpa kehilangan kemandirian dan identitas lokal.

"Platform digital memang membuka akses pasar yang lebih luas, tetapi pada saat yang sama juga menekan margin dan menguji daya tahan usaha lokal. Tantangan kita bersama adalah memastikan pelaku hotel dan restoran DIY tetap adaptif terhadap teknologi tanpa kehilangan kemandirian usaha dan identitas lokal,” ucapnya. 

BACA JUGA : Revolusi Wisata Bandung 2026, Kawasan Tahura Djuanda Jadi Kiblat Staycation Keluarga

BACA JUGA : Peran Sekda Sleman Jadi Sorotan Kasus Hibah Pariwisata

Menurutnya, identitas lokal justru menjadi kekuatan utama pariwisata DIY di tengah persaingan global yang semakin homogen.

Karena itu, Pemda DIY menilai bahwa jawaban atas berbagai tantangan tersebut bukanlah kompetisi yang saling melemahkan, melainkan kolaborasi yang saling menguatkan antarpelaku.

"Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memandang bahwa jawaban atas berbagai tantangan ini bukan kompetisi yang saling melemahkan, tetapi kolaborasi yang saling menguatkan,” jelasnya.  

Ia menegaskan, agenda kolaborasi itu harus diwujudkan melalui penguatan kualitas sumber daya manusia pariwisata, pengembangan rantai pasok berbasis lokal, serta inovasi produk dan layanan yang terintegrasi dengan desa wisata, budaya, dan ekonomi kreatif. 

Selain aspek ekonomi, ia juga menekankan pentingnya kesadaran terhadap daya dukung lingkungan hidup.  

BACA JUGA : Kurangi Bus Pariwisata Masuk Sumbu Filosofi, Pemkot Yogyakarta Siapkan TKP Baru dan TOD Giwangan

BACA JUGA : Menjelajahi Pesona Sentul Bogor Sebagai Wisata Keluarga untuk Liburan Seru

Menurutnya, pariwisata DIY tidak boleh tumbuh dengan mengorbankan keberlanjutan lingkungan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: